OPINI

OPINI: Problematika Tata Ruang Usai Pilwali Makassar

Ditulis Rimba Arief ST MEng, Pemerhati Tata Ruang Perkotaan / Wakil Ketua Ikatan Alumni Perencanaan Kota Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.

OPINI: Problematika Tata Ruang Usai Pilwali Makassar
Rimba Arief ST MEng 

Lihat saja kecenderungan pemanfaatan ruang yang semakin didominasi oleh fungsi ruang bisnis.

Hampir semua sudut jalan utama dapat kita temukan sarana perdagangan berupa kaki lima, ruko hingga mal.

Sebut saja; sekitaran kawasan cagar budaya Benteng Rotterdarm, sekitaran kawasan RTH Lapangan Karebosi, hingga kawasan pendidikan di sekitar Tamalanrea dan Panakkukang yang trend pertumbuhan sarana bisnisnya terus meningkat (Arief,2014).

Pengendalian Ruang
Berbagai problematika tersebut tentu menjadi tantangan bagi Plt Wali Kota Makassar mendatang dalam menjalankan fungsi dan wewenangnya.

Derasnya pertumbuhan ekonomi serta kecenderungan pemanfaatan ruang perlu menjadi perhatian serius.

Bila tidak diatur secara tepat, dikhawatirkan mengarah pada penyimpangan pemanfaatan ruang.

Jangka waktu sekitar satu tahun (2019-2020) masa jabatan Plt terasa cukup lama dan rentan terhadap perubahan wajah kota.

Dalam hal penataan ruang sebaiknya PLT terpilih lebih fokus pada pengendalian tata ruang dibandingkan pada perencanaan atau pemanfaatan ruang. Mengapa demikian?

Karena aspek perencanaan dan pemanfaatan ruang memerlukan proses yang panjang dan komprehensif sehingga sifatnya substansial.

Selain itu, rencana tata ruang yang ada juga perlu disesuaikan dengan visi misi kepala daerah baru sehingga proses prencanaan dan pemanfaatan ruangnya dapat dikawal dengan baik oleh kepala daerah terpilih.

Halaman
1234
Editor: Jumadi Mappanganro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help