Polda Tetapkan 2 Tersangka Tragedi KM Lestari Maju, Ini Kata Ahli Keselamatan Maritim

Keduanya ditetapkan sebagai tersangka, setelah polisi memeriksa keterangan 12 orang saksi dan melakukan gelar perkara.

Polda Tetapkan 2 Tersangka Tragedi KM Lestari Maju, Ini Kata Ahli Keselamatan Maritim
Tribun kaltim/rafan dwinanto
Isradi Zainal berpose dengan latar ribuan wisudawan dan wisudawati Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (23/09/2017) 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Fahrizal Syam

TRIBUN-TIMUR. COM, MAKASSAR - Polda Sulawesi Selatan menetapkan dua tersangka dalam kasus kandasnya Kapal Motor Lestari Maju di perairan Kepulauan Selayar yang menewaskan 36 jiwa.

Kedua tersangka berinisial KM, selaku Perwira Posker Pelabuhan Bira dan AS, selaku nakhoda KMP Lestari Maju.

Keduanya ditetapkan sebagai tersangka, setelah polisi memeriksa keterangan 12 orang saksi dan melakukan gelar perkara.

Praktisi dan Ahli Keselamatan Maritim, Dr Isradi zainal mengapresiasi langkah Polda Sulsel yang bergerak cepat menetapkan tersangka kasus ini, meski ia memeprtanyakan pengurangan tersangka dari empat menjadi 2.

"Langkah Polda Sulsel menetapkan tersangka patut diappresiasi karena mampu mengambil keputusan untuk menetapkan tersangka secara cepat, hanya saja yang jadi tanda tanya kenapa pengumuman terkait tersangka berubah dalam waktu singkat dari 4 menjadi 2 seperti tang diberitakan sebelumnya," kata Isradi, Selasa (10/7/2018).

Ia mengatakan, sebelum menetapkan tersangka dalam sebuah kecelakaan kapal, selain berbasis UU Pelayaran juga harus didasarkan pada regulasi international lain seperi Sistem Manajemen Keselamatan international (ISM code) yang mengatur sistem manajemen keselamatan kapal, lenumpang dan lingkungan maritim.

Ia melanjutkan, berdasarkan sistem manajemen keselamatan kapal, dapat dianalisis penyebab kecelaakaan kapal dan penumpang.

"Terkait penetapan tersangka yang dikaitkan dengan kecelakaan kapal akibat kelebihan penumpang, perlu dikaji lebih mendalam pihak yang paling berkepentingan untuk memuat penumpang yang jauh lebih banyak dari manifest yang ada di atas kapal apakah nakhoda, syahbandar atau pihak lain apalagi pemilik kapal ada di atas kapal saat itu," kata dia.

"Kelebihan penumpang terkait dengan penjualan tiket yang tentu saja bukan saja karena nakhoda tapi yang pasti ada pihak lain. Sementara terkait dengan cuaca buruk yang menyebabkan kapal dikandaskan, nakhoda tidak satu-satunya yang patut disalahkan tapi juga pihak lain yang berwenang melarang kegiatan pelayaran kalau dianggap berbahaya dalam berlayar, apalagi saat itu sepertinya tidak informasi untuk melarang kapal berlayar," tegasnya.

Meski demikian, lanjut Isradi , nakhoda memang penanggung jawab utama keselamatan di atas kapal dengan catatan segala hal ynag diminta ke lemilik diikuti dan dibantu pemenuhannya.

"Yang pasti kejadian ini harus membuat kita semua sadar bahwa kejadian itu bukan saja karena kesalahan orang perorang tapi juga karena pengawasan dan perilaku semua pihak terkait safety yang belum optimal baik oleh pemerintah, pemilik, operator, crew kapal, dn lin-lain," imbuhnya.

Berkaca pada tragedi itu, ia berharap agar kapal yang beroperasi untuk mengangkut penumpang setidaknya tidak diijinkan lagi untuk kapal yang berumur lebih dari 30 tahun.

"Pemerintah daerah mesti bekerja sama dengan pemerintah pusat membantu penambahan kapal penumpang yang lebih layak untuk Selayar-Bira, dan lain-lain, karena sesuai dengan kebijakan tol laut. Saya sempat komunikasi dengan Gubernur Sulsel terpilih yang InsyaAllah ke depan akan memberi perhatian terhadap kemaritiman Sulawesi Selatan," pungkasnya.

Penulis: Fahrizal Syam
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved