Pilwali Makassar

Rekapitulasi Suara Gaduh, Ini Kata Jubir Appi-Cicu

Proses penghitungan atau rekapitulasi suara di tingkatan kecamatan bahkan harus molor dan mengalami penundaan.

Rekapitulasi Suara Gaduh, Ini Kata Jubir Appi-Cicu
TRIBUN TIMUR/ABDUL AZIS
Arsony 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Alfian

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR- Kegaduhan pasca pencoblosan masih terus terjadi dalam tahapan penghitungan suara Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar.

Proses penghitungan atau rekapitulasi suara di tingkatan kecamatan bahkan harus molor dan mengalami penundaan.

Kegaduhan ini terjadi lantaran adanya dua kubu yang saling bersitegang yakni Pendukug Pasangan Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika Dewi (Appi-Cicu) serta oknum yang mengatasnamakan pendukung kolom kosong.

Bahkan aksi bentrok fisik yang bahkan mengakibatkan jatuhnya korban akibat terkena pukulan maupun senjata tajam terjadi di berbagai kecamatan lokasi rekapitulasi suara.

Juru Bicara (Jubir) Appi-Cicu, Arsony, mengatakan bahwa hal itu terjadi lantaran pihak yang mengaku pendukung Kolom Kosong ikut mengintervensi.

"Memangnya mereka punya kepentingan, kan mereka tidak punya Calon dan tidak diperkenankan hadir di lokasi rekapitulasi suara. Tapi nyatanya mereka datang bahkan memprovokasi," ujarnya via rilis yang diterima Tribun Timur, Senin (2/7/2018).

Aksi provokasi dan serangan fisik yang dilakukan oknum-oknum diduga pendukung Kolom kosong terhadap pendukung Appi-Cicu yang sedang melakukan penjagaan menurut Arsony adalah bentuk kepanikan orang-orang yang tak menginginkan Appi-Cicu pimpin Makassar.

"Ini sudah banyak bukti kami temukan, ada yang mau palsukan C1 terus ada lembaga pemantau abal-abal yang tiba-tiba muncul dan provokasi dari pendukung Koko yang membuat rekapitulasi suara tidak berjalan maksimal," tegasnya.

"Sementara kami hanya melakukan pengawalan suara kami tak mau ada pihak yang mengubah hasil dari kemenangan kami. Bukti-bukti dan provokasi-provokasi yang kami terima adalah bukti jika Bos dari 'Koko' sedang panik," tutupnya. (*)

Penulis: Alfian
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help