Petani Keluhkan Proyek Bibit Bawang di Maluku, 'Jangan Sampai Proyek Tipu-Tipu'

Tapi ini sampai sekarang tidak ada biar satu biji, padahal saya sudah garap ini lahan setengah hektar tapi ini mungkin proyek tipu-tipu saja

Petani Keluhkan Proyek Bibit Bawang di Maluku, 'Jangan Sampai Proyek Tipu-Tipu'
handover
Petani di Desa Abean Kamear, Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), Provinsi Maluku terlihat bajak lahan untuk Proyek bibit Bawang Merah. (Handover) 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Darul Amri

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Proyek pengadaan bibit Bawang merah di Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), Provinsi Maluku, khusus di Desa Abean Kamear dipertanyakan oleh warga.

Pasalnya, proyek bibit Bawang merah langsung dari Kementerian Pertanian RI melalui Dinas Pertanian di Kabupaten ini tidak dirasakan penuh sebagian petani yang sudah dijanjikan terlebih dahulu.

Salah satu petani, Baharuddin Ngabalin (70) mengatakan, sejak pembagian bibit Bawang merah, dia dijanjikan jatah bibit seseuai lahan yang digarap setengah hektar, yaitu sekitar 300 kilogram (Kg).

"Tapi ini sampai sekarang tidak ada biar satu biji, padahal saya sudah garap ini lahan setengah hektar tapi ini mungkin proyek tipu-tipu saja," ungkap Ngabalin kepada tribun timur, Jumat (22/6/2018).

Diketahui, proyek bibit Bawang merah untuk Desa Abean Kamear Malra oleh Kementerian Pertanian RI ini terlaksana sejak Mei 2017 untuk pembagian awal, dan pembagian kedua pada Mei 2018.

Begitupun anggaran berasal langsung dari Kementerian Pertanian yang telah ditetapkan di dua daerah di Maluku, Malra dan Seram Bagian Barat (SBT) mendapatkan proyek pengadaan bibit.

Tapi, periode pembagian kedua kali ini kata Ngabalin, seperti ada permainan dari orang tertentu karena hampir semua petani yang sebelumnya mendapat bibit secara merata, kini mulai terkendala.

"Sebenarnya pertama pembagian saat itu ada juga wakil bupati (Wabup Malra, Yunus Serang) kita semua dapat walau saya dapat bawang busuk-busuk tapi ini sekarang tidak tahu kemana," ujarnya.

Lanjut Ngabalin, untuk penggarapan di Desa Abean terbagi menjadi tiga dusun. Yaitu Dusun Kamear 25 Hektar, di Dusun Yavafun 15 Hektar, dan juga di Watngon ada 10 Hektar. Totalnya 50 Hektar.

"Bayangkan saja ini 25 hektar khusus di desa Abean, tapi kira-kira itu semua lari kemana semua. Kita punya hak karena proyek dari pemerintah pusat ini bukan dari pemerintah luar," jelas Ngabalin.

Ngabalin berharap, agar kontrol dari pemerintah pusat dalam hal ini pihak Kementerian Pertanian agar bisa turun langsung untuk mengecek apa bibit-bibit yang disalurkan sampai atau tidak.

"Kita disini petani tidak sekolah, sering ditipu sana-sini tolong pemerintah di Jakarta turun langsung lihat ini atau pak menteri agar lihat-lihat juga kerjanya ini pegawainya di daerah," tambahnya. (*)

Caption Foto: Petani di Desa Abean Kamear, Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), Provinsi Maluku terlihat bajak lahan untuk Proyek bibit Bawang Merah. (Handover)

Penulis: Darul Amri Lobubun
Editor: Ardy Muchlis
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help