Home »

Opini

OPINI: Madrasah Ramadan untuk Perbaikan Bangsa

Keagungan dan kemuliaan Ramadan, tidak terletak pada puasanya, melainkan karena di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai pedoman bagi umat manusia.

OPINI: Madrasah Ramadan untuk Perbaikan Bangsa
dok.tribun
Mohammad Muttaqin Azikin

Beberapa hal yang penting dicermati kembali dalam Madrasah Ramadan, untuk menambah pengenalan dan pengetahuan kita tentangnya, agar kita mampu mencerap energi positif dalam melakukan perubahan dan perbaikan, baik secara individual maupun komunal, antara lain:

Pertama, Ramadan bulan Al-Quran. Keagungan dan kemuliaan Ramadan, tidak terletak pada puasanya, melainkan karena di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai pedoman bagi umat manusia.

Sekiranya manusia dan khususnya kaum Muslimin, konsisten menjadikan Quran sebagai sistem nilai serta jalan hidupnya, maka pastilah akan memberikan kebahagiaan dalam kehidupan individu dan masyarakatnya. Sebab, Al-Quran merupakan panduan sempurna untuk sepanjang zaman, yang berlaku secara universal.

Kedua, Rasulullah SAW manifestasi Al-Quran. Terkait Quran, tentu tidak dapat dipisahkan dengan Sang Pembawa kitab suci tersebut.

Islam sebagai risalah terakhir di akhir zaman yang diturunkan Tuhan kepada Nabi-Nya yang mulia, tidak hanya sebatas konsepsi idealita yang sempurna, namun sekaligus menggambarkan realita sesungguhnya yang terungkap dalam diri Rasulullah SAW.

Itu sebabnya, beliau menjadi teladan sempurna dari keseluruhan nilai dari kandungan Al-Quran. Surah Al-Ahzab 21 menyebutkan, “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah, suri teladan yang baik bagimu…” Tuhan juga berfirman, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad)
melainkan menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (Al-Anbiya : 107)

Ketiga, Malam Lailatul Qadr. Malam ini digambarkan sebagai malam yang lebih mulia
dari seribu bulan. Di dalamnya, terdapat banyak keagungan, keberkahan dan keutamaan.

Direktur Rumi Institute, Muhammad Nur Jabir, menyebut Lailatul Qadr sebagai fenomena yang terjadi di dalam diri, di batin kita. Bukan fenomena pada realitas eksternal. Karenanya, mencari Lailatul Qadr bukan di luar diri, tapi di dalam diri, di alam malakut diri sendiri.

Dengan begitu, bila ada orang yang mendapatkan anugerah Lailatul Qadr, berarti ia telah mendapatkan kadar eksistensi dirinya melalui ibadah-ibadah yang ia lakukan di bulan Ramadan.

Keempat, Kedudukan Takwa. Tujuan utama pelaksanaan ibadah puasa di bulan suci Ramadan, adalah meraih derajat takwa.

Halaman
1234
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help