OPINI: Madrasah Ramadan untuk Perbaikan Bangsa

Keagungan dan kemuliaan Ramadan, tidak terletak pada puasanya, melainkan karena di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai pedoman bagi umat manusia.

OPINI: Madrasah Ramadan untuk Perbaikan Bangsa
dok.tribun
Mohammad Muttaqin Azikin

Memang saja, penganut Islam kuantitatif telah bertahan sekian lama hingga hari ini. Bertahun-tahun setelah Indonesia merdeka sampai era reformasi saat ini, namun tidak banyak mengalami perubahan mendasar.

Pertanyaannya, apakah Islam tidak memiliki upaya-upaya transformatif dalam sistem nilainya? Ataukah umat Islam sendiri yang berjarak dengan sistem nilainya.

Terkait hal tersebut, maka salah satu yang perlu dibaca ulang adalah bagaimana pengaruh Madrasah Ramadan terhadap perubahan individual dan sosial masyarakat.

Bagi kaum Muslimin, Madrasah Ramadan sejatinya, dijadikan sebagai momentum untuk melakukan penempaan dan perbaikan diri. Sebab, di dalamnya, sarat dengan berbagai unsur yang berdimensi spiritual dan ruhaniah, yang sangat dibutuhkan oleh manusia.

Bila manusia terpisah dengan dimensi ruhaniahnya, maka kemanusiaannya menjadi kemanusiaan yang berpenyakit.

Jean Jaques Rousseau pernah berujar, “Semakin banyak orang pandai, semakin sulit dicari orang jujur.” Ia beranggapan, semua penyakit kemanusiaan timbul karena manusia hanya mempertajam akalnya saja dan mengesampingkan panggilan hati nuraninya atau sisi ruhaninya. Demikian kutipan dalam “Renungan-Renungan Sufistik”-nya Dr.Jalaluddin Rakhmat.

Di dalam Al-Quran dan banyak hadis, disebutkan bahwa Ramadan adalah bulan yang agung dan mulia di sisi Allah SWT.

Meski begitu, dalam praktiknya, Ramadan yang kita jalani hanya terkesan semarak dalam aspek lahiriahnya. Tentu hal itu disebabkan pemaknaan kita terhadap Ramadan.

Karena itu, Allamah Syaikh Asad Muhammad Qashir mengatakan, “Seringkali yang menyebabkan orang tidak menghargai sesuatu dengan sepantasnya adalah karena dia tidak memiliki pengenalan yang baik terhadap sesuatu tersebut.

Banyak manusia yang saat bulan Ramadan menghampirinya, saat dia berada di dalam bulan suci Ramadan, dan saat dia akan meninggalkannya, maka perasaan, pikiran serta sikapnya tidak berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Penyebab utama keadaan seperti itu, adalah karena dia tidak mengenal Ramadan dengan sebaik-baik pengenalan.”

Halaman
1234
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help