Refleksi Ramadan

REFLEKSI RAMADAN (28): Perhatian dan Cinta Juga Sedekah

Sarjana Sufi, al-Sulami, mengatakan, apa pun yang diberikan setelah seseorang didorong kebutuhan untuk memintanya adalah “sekadar ganti rugi ...

REFLEKSI RAMADAN (28): Perhatian dan Cinta Juga Sedekah
dok.tribun
Wahyuddin Halim 

Oleh
Wahyuddin Halim
Antropolog Agama UINAM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Dalam Islam, zakat adalah ritual yang demikian penting sehingga menjadi rukun Islam ketiga, setelah syahadat dan salat.

Salah satu misteri Al-Quran, kata salat dan zakat secara bersama-sama sering muncul dalam ungkapan “mendirikan salat dan menunaikan zakat”.

Kemunculan ungkapan ITU sekitar 24 kali dalam Al-Quran menunjukkan kaitan erat antara kewajiban seseorang kepada Allah dan tugasnya kepada sesama orang beriman.

Tampaknya, kemujaraban salat banyak bergantung pada apa yang dapat seorang sumbangkan dari kekayaannya atas nama Allah.

Zakat bukan sekAdar soal kedermawanan tapi penyucian diri, sebagaimana makna kata zakat itu sendiri: menyucikan atau membersihkan. “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka” (9:103)

Dalam satu hadis, Nabi SAW menyerupakan salat dengan sungai yang mengalir di depan pintu rumah seseorang di mana dia dapat mandi lima kali sehari. Dengan cara itu Allah mencuci dosa dan kejahatan seseorang.

Tujuan akhir zakat adalah menolong orang miskin. Maka, dalam Al-Quran ada indikasi, Allah tidak peduli apakah dalam membayar zakat itu seseorang ikhlas atau tidak, yang penting orang miskin dapat tertolong. "Di dalam kekayaan mereka ada hak orang yang meminta dan orang-orang yang malang." (70: 24-25).

Seruan Al-Quran ITU menunjukkan, penerima zakat menerimanya sebagai hak, bukan sebagai sumbangan.

Al-Quran memberi nilai tinggi pada kemurahan hati dan mencela mereka yang berpaling dari fakir-miskin.

Halaman
12
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved