Refleksi Ramadan

REFLEKSI RAMADAN (27): Kesalehan Ritual Meningkat Dramatis, Kezaliman Sosial Mencuat Fantastis

Menurut Nurcholish Madjid, umat Islam Indonesia masih terperangkap dalam kesalehan simbolik dan menganut persepsi formal.

REFLEKSI RAMADAN (27): Kesalehan Ritual Meningkat Dramatis, Kezaliman Sosial Mencuat Fantastis
dok.tribun
Wahyuddin Halim 

Oleh
Wahyuddin Halim
Antropolog Agama UINAM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sejumlah penelitian menemukan fakta meningkatnya kasus intoleransi oleh kaum Muslim Indonesia terhadap penganut agama, mazhab, paham, dan ideologi di luar kalangan mereka.

Padahal, Al-Quran, hadis, kitab-kitab dan ceramah-ceramah agama tidak kurang mengajarkan tentang toleransi.

Kalangan Muslim tertentu sering membanggakan fenomena kebangkitan Islam di Indonesia. Mereka merujuk ke masjid-masjid yang semakin banyak dan dipenuhi jamaah, Salat Tarawih yang semarak, dakwah Ramadan yang intensif, dan semakin banyak perempuan berjilbab.

Selain itu, kemenag kerap membanggakan peningkatan luar biasa jumlah calon jamaah haji Indonesia.

Daftar tunggu calon jamaah haji semakin panjang seiring waktu. Mengikuti Aceh, beberapa daerah di Indonesia berupaya ‘menegakkan syariat Islam’ melalui perda-perda bernuansa syariah.

Apakah semua fenomena di atas adalah tanda kebangkitan kesadaran beragama? Jawabannya tergantung pada sudut pandang yang menilai.

Yang jelas ada pihak yang justru melihat adanya gejala memudarnya kesadaran beragama.

Mereka merujuk pada meningkatnya kasus korupsi, kriminalitas, jumlah pecandu narkoba, konflik antarpemeluk agama, aksi amoral pemimpin agama, terorisme, dan pelanggaran HAM.

Mengapa muncul dua pandangan berbeda? Sebabnya, pihak pertama membahas agama dalam dimensi ritual, pihak kedua dalam dimensi sosial.

Halaman
12
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help