Ketua PW Muhammadiyah Sulsel Resmikan Ponpes Darul Arqam Muhammadiyah Cece Enrekang

Pembangunan pesantren tersebut dibangun di atas tanah seluas 10.800 m2 yang merupakan tanah wakaf dari Keluarga Kaso.

Ketua PW Muhammadiyah Sulsel Resmikan Ponpes Darul Arqam Muhammadiyah Cece Enrekang
m azis albar/tribunenrekang.com
Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Prof Dr H Ambo Asse saat meresmikan Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Alqam Muhammadiyah Cece terletak di Jalan poros Kalosi-Baroko, Desa Sumillan, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. 

Laporan Wartawan TribunEnrekang.com, Muh Azis Albar

TRIBUNENREKANG.COM, ENREKANG - Keinginan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Enrekang untuk memiliki Pondok Pesantren (Ponpes) akhirnya terwujud.

Ponpes yang diberi nama Ponpes Darul Alqam Muhammadiyah Cece terletak di Jalan poros Kalosi-Baroko Desa Sumillan Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

Ponpes tersebut diresmikan langsung oleh Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Prof Dr H Ambo Asse.

Menurut Ketua PDM Enrekang, Kamaruddin Sita, pembangunan pesantren tersebut dibangun di atas tanah seluas 10.800 m2 yang merupakan tanah wakaf dari Keluarga Kaso.

Baca: Jadi Fasilitator Pasar Murah, Segini Jumlah Bantuan Bagi Pesantren Darul Arqam

Baca: Ponpes Darul Arqam Gombara Gelar Baitul Arqam

“Tanah yang luasnya 10.800 m2 akan dibangunan Ponpes dan SMK Muhammadiyah 1 Enrekang yang rencananya tiap tahun menerima bantuan dari pembinaan SMK Kementerian Pendidikan," kata Kamaruddin Sita kepada TribunEnrekang.com, Minggu (10/6/2019).

Prof Ambo Asse saat meresmikan Ponpes tersebut mengatakan selama kepengurusannya, sudah ada tiga Ponpes Muhammadiyah yang diresmikan. Itu merupakan spirit baru di Sulsel dalam menggalakkan pembangunan pesantren Muhammadiyah.

"Tidak muda, kita butuh dukungan dan kerja keras pada semua komponen warga Muhammadiyah, mulai hari ini saya berharap semua mensosialisasikan pesantren baru kita ini," ujar dekan Fakultas Syariah UIN Alauddin Makassar ini.

Ia menjelaskan, berjihad dalam agama jangan diartikan sempit, membangun pesantren, sekolah, panti Asuhan juga adalah bentuk jihad yang sesungguhnya.

"Bunuh diri itu bukan jihad dan bukan perintah tetapi larangan keras dalam agama islam, seperti marak belakangan ini. Tapi dari pesantrenlah harus dapat melahirkan kader-kader penerus Pergerakan Muhammadiyah,” tuturnya.(*)

Penulis: Muh. Asiz Albar
Editor: Hasriyani Latif
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help