Indonesia Masuk Dewan Keamanan PBB, Ini Harapan Senator RI Asal Sulsel

"Semoga punya makna tersendiri. Terutama terkait nasib rakyat Palestina yang semakin tertindas zionis Israel,” ujar AM Iqbal Parewangi. D

Indonesia Masuk Dewan Keamanan PBB, Ini Harapan Senator RI Asal Sulsel
dok.tribun
Senator RI asal Sulsel AM Iqbal Parewangi saat akan melakukan penerbangan ke Cengkareng, Jakarta, , setelah delay sekitar dua jam di Palembang, Jumat (8/6/2018) malam. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Indonesia mewakili wilayah Asia dan Pasifik terpilih menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB setelah meraih 144 suara dari 190 negara yang hadir. Dalam pemungutan suara tersebut, Indonesia bersaing dengan Maladewa yang mendapatkan 46 suara, tidak ada yang abstein.

Presiden Majelis Umum PBB Miroslav Lajcak memimpin proses pemungutan suara. Melalui siaran TV PBB yang ditayangkan di Kantin Diplomasi Kementerian Luar Negeri di Jakarta, Jumat (8/6/2018) malam.

Senator RI asal Sulsel bersyukur atas masuknya Indonesia menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Iqbal berharap, kehadiran Indonesia dalam daftar negara yang disegani di PBB itu menjadi angin segar bagi Palestina dan beberapa negara berpenduduk mayoritas Islam lainnya.

“Patut disyukuri masuknya Indonesia menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2019-2020. Itu artinya, semoga Indonesia semakin bisa berbuat banyak, maksimal, dan berdaya untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina, Suriah, Afganistan, dan negara-negara lain,” ujar Iqbal sesaat setelah mendarat di Cengkareng, Jakarta, dari Palembang, Sabtu (9/6/2018) dini hari.

Menurut Iqbal, memang bukan pertama kalinya Indonesia masuk, tapi sudah kali kelima. Indonesia menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB terakhir pada 2006-2008.

“Akan tetapi kali ini diharapkan bisa punya makna tersendiri. Terutama terkait kemerdekaan Palestina, dan nasib rakyat Palestina yang semakin tertindas oleh kekejaman zionis Israel,” ujar Iqbal.

Dia menjelaskan, secara konstitusional, Indonesia terikat dengan komitmennya terhadap kemerdekaan Palestina. Dan itu sesuai dengan prinsip landasan konstitusional Indonesia yang sudah jelas. Bahwa "kemerdekaan adalah hak segala bangsa", bahwa "penjajahan di atas dunia harus dihapuskan", dan juga bahwa Indonesia punya tanggungjawab konstitusional "menjaga ketertiban dunia".

“Oleh karena itu, harapan terbesar saya dengan masuknya kembali Indonesia menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2019-2020 adalah bahwa Indonesia punya kekuatan untuk mendesakkan kemerdekaan Palestina,” jelas Iqbal.

Juga Indonesia harus bisa mendesak penghentian segala bentuk praktik genocyde terhadap umat Islam di berbagai negara, termasuk di Palestina dan Rohingya.

“Kalau ada yang mau sebut atau mengakui itu prestasi atau bahasa sebangsa lainnya, sah-sah saja. Tetapi yang lebih penting adalah memaknai itu sebagai paduan antara harapan, tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia untuk berbuat lebih dan lebih lagi bagi perdamaian dunia. Peace yes, genocide no!,” jelas Iqbal.

Khusus bagi Indonesia kini, menurut Iqbal, itu kesempatan untuk bisa kembali mulai mengangkat wajah diri dalam pergaulan internasional.

“Saat ini, maaf jika harus dikatakan secara lebih terbuka, Indonesia kehilangan taji di tengah pergaulan internasional. Bukti terbaru, seenaknya Israel memblok kunjungan warga negara Indonesia. Kondisi itu sangat berbeda dengan masa Bung Karno, Pak Harto, dan Prof Habibie,” kata Iqbal.

Dia berharap masuknya kembali Indonesia kini sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB semoga bisa menjadi tongkat penyanggah untuk kembali menegakkan harga diri bangsa ini di mata negara-negara lain.

“Termasuk di mata agresor seperti Israel,” tegas Iqbal.(*)

 Selengkapnya di Tribun Timur cetak edisi Sabtu, 9 Juni 2018

Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved