Dari Bidan hingga Jadi Anggota DPRD, Legislator Perempuan Golkar Bulukumba ini Pelihara Keikhlasan

Amina mengatakan, yang selalu menjadi prinsip hidupnya adalah keikhlasan dalam bekerja, tidak perlu banyak pencitraan.

Dari Bidan hingga Jadi Anggota DPRD, Legislator Perempuan Golkar Bulukumba ini Pelihara Keikhlasan
firki
Siti Amina 

Laporan Wartawan TribunBulukumba.com, Firki Arisandi

TRIBUNBULUKUMBA.COM, UJUNG BULU - Hingga memasuki minggu terakhir Ramadan 1439 Hijriyah, Legislator Golkar Siti Amina Syam mengaku tak pernah absen mengonsumsi pisang ijo.

Makanan khas Makassar dengan bahan utama pisang berbalut dengan tepung yang diberi perwarna hijau tersebut, adalah makanan favoritnya.

"Ada dua makanan yang salah satunya wajib ada kalau berbuka puasa. Yakni pisang ijo dan es buah. Dari dulu itu wajib ada," ujarnya.

Legislator kelahiran 1950 itu mengatakan, sejak kecil dirinya sangat suka pisang ijo, begitupun dengan suaminya.

Soal makanan, ia mengaku tak pemilih, seleranya biasa-biasa saja, tidak harus mahal dan dari restoran ternama.

"Saya biasa-biasa ji. Banyak yang cap kalau anggota DPRD itu makanannya mewah terus. Tidak begitu, kita sama seperti manusia yang lainnya, cuman kami ini diberi amanah untuk menjadi wakil mereka," ujarnya.

Amina menceritakan, sejak kecil dirinya selalu mengamalkan nilai-nilai sosial. Menurutnya kerja-kerja ikhlas selalu memberikan kebahagiaan tersendiri.

Hingga akhirnya ia putuskan untuk sekolah kebidanan dan resmi menjadi seorang bidan pada tahun 1971.

Menjadi salahsatu legislator perempuan di DPRD Bulukumba tidak pernah ia mimpikan sebelumnya. Menurutnya, garis tanganlah yang mengantarnya menuju parlemen.

"Dulu saya tidak suka dunia politik. Saya lebih suka sosial, jadi itulah kenapa saya jadi bidan. Mulai dari kelahiran seorang bayi, jadi balita, anak-anak hingga meninggal, saya urus semua," ujarnya.

"Saya tak lebih sama dengan mereka. Saya hanya manusia biasa," tambahnya.

Amina mengatakan, yang selalu menjadi prinsip hidupnya adalah keikhlasan dalam bekerja, tidak perlu banyak pencitraan.

Seperti halnya dengan puasa, kata dia,  mengajarkan manusia tentang banyak hal, seperti keikhlasan, sabar, menumbuhkan rasa saling menghormati, dan berbagi dengan sesama.

"Kita ikhlas saja. Kalau tangan kanan memberi, tangan kiri tak perlu tahu," pungkas Amina. (*)

Penulis: Firki Arisandi
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved