Marak Pencurian Buah Sawit, PT Unggul Ngaku Rugi Rp 600 Juta per Bulan

Para pelaku pencurian buah mereka menggunakan keranjang yang kadang-kadang memuat 10 tandang buah satu kali jalan.

Marak Pencurian Buah Sawit, PT Unggul Ngaku Rugi Rp 600 Juta per Bulan
nurhadi/tribunsulbar.com
Manager Kebun Inti PT Unggul Baras I, Abd Kadir Samming 

Laporan Wartawan TribunSulbar.com, Nurhadi

TRIBUNSULBAR.COM, MAMUJU - PT Unggul Widya Teknologi Lestari di Kecamatan Baras, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, mengaku mengalami kerugian yang besar akibat maraknya pencurian buah kelapa sawit.

Manager Kebun Inti PT Unggul Baras I, Abd Kadir Samming memperkirakan perusahaan mengalami kerugian Rp 600 juta per bulan akibat pencurian yang jauh dari jangkauan perusahaan.

"Yang selalu dicuri itu kurang lebih 300 hektare. Dan itu berlangsung sejak 2014," kata Abd Kadir Samming kepada TribunSulbar.com, Selasa (5/6/2018).

Dikatakan, daerah yang menjadi tempat pencurian buah tersebut merupakan kebun perusahaan yang diklaim oleh tiga kelompok kerja yang besar di Pasangkayu.

Baca: PT Unggul Bantah Lakukan Pemutusan Jalan Tani di Baras Pasangkayu, Begini Penjelasannya

Baca: PT Unggul Diduga Putus Akses Jalan Tani di Baras Pasangkayu, Ini Masalahnya

"Bahkan biasa kalau karyawan kami masuk di areal ini, mereka ditahan dan kadang dikejar pakai parang. Daerah ini memang jauh dari pantauan kami karena sangat luas sekitar 7.000 hektare kalau kebun inti, dengan plasma itu ada 16 ribu hektare, makanya mereka leluasa mengambil karana jauh dari pantauan," tuturnya.

Ia mengungkapkan, para pelaku pencurian buah mereka menggunakan keranjang yang kadang-kadang memuat 10 tandang buah satu kali jalan.

"Biasa kalau kita datang sama polisi mereka lari. Karyawan tidak ada yang berani masuk karena mereka ditakut-takuti bahkan dikejar pakai parang. Satu orang mandor kami sudah jadi korban penganiayaan, rumahnya didatangi rombongan lalu dipukul," ungkapnya.

"Inilah sebabnya kami putus jalan untuk meminimalisir pencurian. Sebenarnya mereka sudah lama melakukan tapi baru hari ini kita putus. Inipun jalan kita sendiri, jadi bukan jalan desa. Sekarang itu mereka masih lewat lagi walaupun sudah diputus karena yang penting motor mereka bisa lewat," tambahnya.(*)

Penulis: Nurhadi
Editor: Hasriyani Latif
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help