Refleksi Ramadan

REFLEKSI RAMADAN (16): Mengapa Anda Lupa Berapa Kali Mandi, Sisir Rambut, Buang Air, dan Jogging?

Karena ikhlas itu lupa diri. Orang yang benar-benar ikhlas itu lupa jika sedang ikhlas dalam perbuatan baiknya

REFLEKSI RAMADAN (16): Mengapa Anda Lupa Berapa Kali Mandi, Sisir Rambut, Buang Air, dan Jogging?
dok.tribun
Wahyuddin Halim 

Oleh
Wahyuddin Halim
Antropolog Agama UINAM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Beberapa waktu lalu, di satu group WhatsApp (WAg), terjadi perdebatan seru tentang makna kata ikhlas. Ia dipantik oleh sentilan seorang anggota. Perbuatan baik, katanya, kalau selalu dipublikasikan secara lisan dan tulisan, misalnya lewat medsos, bisa berakibat hampa pahala.

Sebab, menurutnya, ia bisa berubah jadi perbuatan riya, berharap pujian manusia, bukan keridaan Allah. Dia rupanya sedang menyentil rentetan postingan beberapa anggota WAg terkait, yang melulu berisi foto-foto kegiatan di institusi mereka.

Teks-teks agama menyebut keikhlasan sebagai syarat diterimanya suatu amalan. Ia juga buah dan intisari iman. Bahkan tujuan akhir dan puncak pencapaian keberagamaan manusia. Ribuan jilid kitab akhlak dan tasawuf telah mengulas tuntas konsep penting dalam agama ini.

Sufi termasyhur, Abul Qosim al-Qusyairi mengatakan, “Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia.” Secara bahasa, ikhlas berarti bersih dari kotoran. Secara istilah, memurnikan niat dari kotoran yang merusak suatu amal.

Menurut ilmu tasawuf, orang yang benar-benar ikhlas itu lupa jika sedang ikhlas dalam perbuatan baiknya. Karena keseringan, perbuatan baik yang dilakoninya sudah menjadi kebiasaan, bersifat spontan dan otomatis, bahkan menjadi karakternya.

Jangankan peduli mempublikasikan aktivitasnya demi mendapatkan apresiasi dan selebrasi sosial, dia bahkan tidak lagi sempat mengingat kebaikan yang telah dilakukannya.

Lebih-lebih, mengiringinya dengan ucapan, "Saya ikhlas lho!" Sebab, dalam ungkapan verbal itu masih terbersit harapan dipuji sebagai orang ikhlas. Menyelinap kesadaran tentang waktu, wujud, dan tujuan suatu perbuatan.

Praktisnya, keikhlasan ditandai dengan ketidaksadaran akan kuantitas dan durasi pelaksanaan suatu ibadah. Anda, misalnya, tidak lagi mengingat dengan jelas jumlah Salat Tarawih atau tajahud Anda. Atau jumlah juz Al-Quran yang telah dibaca selama Ramadan. Juga jumlah sedeqah Anda.

Kenapa? Karena setiap waktu Anda selalu melakukan semua itu dan telah menginternalisasi kebaikannya bagi diri Anda, orang lain, dan semesta.

Sekadar analogi, Anda tentu tidak lagi bisa mengingat berapa kali Anda mandi, buang air besar, menyisir rambut dan jogging dalam minggu. Kenapa? Karena semua itu sudah bertahun-tahun Anda lakukan. Ia sudah menjadi kebiasaan pribadi.

Entah ada yang melihat atau memerintah Anda atau tidak, Anda terus melakukannya. Selain karena kebiasaan, Anda juga sudah merasakan manfaat melakukan semua itu.

Seperti disebut di atas, keikhlasan (semata berharap keridaan Allah) menjadi syarat diterimanya suatu ibadah. Faktanya, sekalipun suatu ibadah dilakukan secara tidak sempurna karena ketiadaan/kesalahan pemahaman tentangnya, atau kelupaan atas beberapa syarat dan rukunnya, asalkan dilakukan dengan ikhlas, ia tetap dapat diterima.

Sebaliknya, sekalipun seluruh syarat, rukun dan cara sebuah ibadah telah dipenuhi dengan sempurna, jika niatnya tidak ikhlas, misalnya untuk reputasi dan prestise sosial-kultural, atau kepentingan pragmatis dan jangka pendek (pencitraan politik, keuntungan ekonomi, dan sebagainya), maka ibadah itu tak akan diperhitungkan.

Ia menjadi tak bernilai sama sekali, kecuali mencapai tujuan duniawi yang ditargetkan. Kata Nabi, “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya”.(*)

Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help