Mengenal KH Nur Husain, Pengasuh Ponpes DDI Baruga Teguh di Jalan Dakwah

Dalam sejarahnya putra dari pasangan suami istri Alm. KH. Nuhun dan Alm. Raega ini, tahu betul zaman penjajahan.

Mengenal KH Nur Husain, Pengasuh Ponpes DDI Baruga Teguh di Jalan Dakwah
nurhadi/tribunsulbar.com
KH. Nur Husain (72) 

TRIBUNSULBAR.COM, MAMUJU - KH. Nur Husain (72). Salah satu ulama yang kharismatik di tanah Mandar.

Ia lahir dan tumbuh di tanah Mandar, Majene 10 Oktober 1945. Menjadi tokoh mengispirasi dalam menjaga mertabat pengetahuan keagamaan.

Dalam sejarahnya putra dari pasangan suami istri Alm. KH. Nuhun dan Alm. Raega ini, tahu betul zaman penjajahan. Sebab kedua orang tuanya adalah korban kekejaman Westerling di Galung Lombok, Polman.

Tak heran, jika Sarjana Muda (Sarmud) alumni Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin Ujung Pandang Tahun 1973 ini, tertarik pada seorang orator ulung, Ir. Soekarno. Presiden Pertama Republik Indonesia.

Pada akhirnya, tokoh yang dikenal sabar dan ramah ini, dipercaya memimpin Pengurus DDI Baruga Periode 1985/1992, setelah melakukan pendalaman (Takhassus) Kitab-Kitab Islam Klasik di Makassar pada sejumlah Ulama di Makassar.

Diantaranya Alm KH. Muhammad Nur, Alm. KH. Darwis Zakariyah, Alm. KH. Abd. Rahman Matammeng, Alm. KH. Jabbar ‘Asiri, dan beberapa Ulama terzohor lainnya di masa itu.

Olehnya, Ia tetap memegang komitmen merapkan pengembangan Ilmu Pengetahuan di Pondok Pesantren Ihyaul Ulum DDI Baruga Majene yang tidak lepas dari pembinaannya. Tentunya dalam metode dakwah.

"Hal terpenting adalah menjaga martabat pngetahuan dengan mengamalkannya. Komitmen kita terhadap penerapan metode dakwah yang tetap menjaga sikap lemah lebut. Jangan ada kasar dalam dakwah,"kata pria yang menumpuh pendidikan awal di Sekolah Rakyat (SR) Negeri Makassar Tahun 1956 - 1958.

Menurutnya, dewasa ini terdapat pola saling rebut ruang di panggung dakwah sehingga makin hilang dimensi ketawadhu’an dalam beragama. Inilah yang menjadi tantangan da’wah masa depan.

Namun, hemat Imam Masjid Lingkungan Baruga ini, lebih mengenal istilah muqim dalam ilmu Fiqih, dengan menggunakan pendekatan akhlak, bahwa mengedepankan penghormatan jauh lebih utama dari pada menonjolkan kepintaran.

Halaman
123
Penulis: Nurhadi
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help