GP Ansor Sulbar Apresiasi Kinerja Kapolri Berantas Teroris

Berkat kesigapan polisi kita tenang kembali, kita bisa jalani bulan puasa ini dengan aman dan tenteram.

GP Ansor Sulbar Apresiasi Kinerja Kapolri Berantas Teroris
nurhadi/tribunsulbar.com
Sekretaris GP Ansor Sulbar, Herwin Muntolalu

Laporan Wartawan TribunSulbar.com, Nurhadi

TRIBUNSULBAR.COM, MAMUJU - Gencarnya operasi penindakan terorisme oleh Densus 88 Antiteror Polri diyakini telah kian mempersempit ruang gerak teroris.

Tercatat, hanya dalam waktu tujuh hari pascainsiden bom Surabaya, sebanyak 74 terduga teroris berhasil ditangkap dan 14 di antaranya tewas.

Penindakan paling banyak terjadi di Surabaya dimana 31 orang tertangkap dan 4 di antaranya tewas. Terbanyak kedua terdapat di Provinsi Banten dan DKI Jakarta dengan 16 orang tertangkap dan 2 di antaranya tewas.

Kemudian Riau (9 orang, 4 tewas) Jawa Barat (8 orang, 4 tewas), Sumatera Utara (6 orang), dan Sumatera Selatan (4 orang).

Hal tersebut mendapatkan apresiasi dari Sekretaris Gerakan Pemuda (GP) Ansor Provinsi Sulawesi Barat, Herwin Montolalu. Menurutnya, dengan melihat peta fenomena yang terjadi diberbagai tempat penyebaran teroris yang ditangkap, masyarakat betul-betul kaget ternyata sebegitu rapinya kerja para teroris ini.

"Saya kira itu prestasi tersendiri bagi kapolri dan jajarannya dalam mengungkap sel jaringan ini. Membuat teroris ini makin sulit beraksi, termasuk dalam menyebarkan paham radikalisme," kata Herwin, Rabu (23/5/2018).

Baca: Mantan Teroris Bom Bali Bangga Bisa Ceramah di Mako Kodam Hasanuddin

Baca: Dialog Kebangsaan, FKP Sulsel Bahas Terorisme dan Pilkada Serentak

Di samping menyulitkan kelompok jaringan teroris, lanjutnya, langkah polisi itu juga telah memberi rasa aman kepada masyarakat. Pasalnya, tak dapat dipungkiri serangan beruntun pelaku teror dalam beberapa hari terakhir sempat menimbulkan rasa was-was bagi warga.

"Tapi Alhamdulillah, berkat kesigapan polisi kita tenang kembali, kita bisa jalani bulan puasa ini dengan aman dan tenteram," ujarnya.

Herwin menegaskan, keberhasilan polisi itu selanjutnya perlu dukungan aktif semua lapisan masyarakat terutama dalam rangka menangkal terorisme dan radikalisme. Salah satunya adalah dengan tidak memperkeruh suasana melalui penyebaran berita bohong atau hoax.

"Hoax itu ibarat senjata lain terorisme. Orang bisa saja tersulut emosinya dan berbuat radikal gara-gara baca hoax," katanya.

Ia mengatakan, cara pandang masyarakat bisa saja berubah karena informasi yang sepotong atau berbentuk fitnah. Apalagi, lanjutnya, jika hoax itu terus diproduksi dan disebarkan di tengah masyarakat yang mudah tersulut bilamana terkait masalah agama.

Oleh karena itu, ia mendukung langkah Kapolri Tito Karnavian dalam melakukan penertiban terhadap segala informasi yang masuk kategori hoax. Gerakan melawan hoax yang saat ini gencar dikampanyekan dinilai sudah tepat untuk mengatasi berita yang mengancam keutuhan NKRI.

"Harapan kami kapolri dan jajarannya tidak gampang puas dengan kinerja yang ada saat ini yang mendapatkan apresiasi secara luas oleh berbagai kalangan, tapi terus dijadikan momentum untuk meningkatkan kemampuan polri," tuturnya.

"Kader-kader Ansor di seluruh Indonesia umumnya dan di Provinsi Sulbar khususnya juga harus kuasai teknologi untuk menangkal berita hoax dan ujaran kebencian," lanjutnya.(*)

Penulis: Nurhadi
Editor: Hasriyani Latif
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help