Refleksi Ramadan

REFLEKSI RAMADAN (4): Boleh Saja Jadi Komentator Puasa, Tapi Sebaiknya Penuhi Syarat Seperti ini

Yang lucu jika, misalnya, seorang dokter anestesi berani bicara tentang puasa menurut ushul fiqih.

REFLEKSI RAMADAN (4): Boleh Saja Jadi Komentator Puasa, Tapi Sebaiknya Penuhi Syarat Seperti ini
dok.tribun
Wahyuddin Halim 

Oleh
Wahyuddin Halim
Antropolog Agama UINAM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Antropolog asal Swedia, Andre Moller, tahun 2005, menerbitkan disertasinya di Universitas Lund menjadi buku berjudul, “Ramadan in Java: the Joy and Jihad of Ritual Fasting”. Dia tak banyak bicara tentang normativitas Ramadan menurut teks-teks agama. Lewat riset etnografis beberapa tahun di Jogya dan Blora, dia mengeksplorasi bagaimana orang-orang Jawa Muslim memahami, menjalani, dan menikmati puasa di bulan Ramadan.

Simpulannya, ibadah puasa bagi mereka adalah kesenangan (joy) sekaligus perjuangan (jihad). Sebagai ‘orang luar’ Moller mampu meneroka hal-hal menarik, unik, dan mengagumkan dalam ritual puasa Ramadan orang-orang Jawa Muslim. Hal-hal yang mungkin lumrah dijumpai dipraktikkan juga orang-orang Muslim di luar Jawa.

Dia juga mencermati bagaimana penafsiran tentang Ramadan dipresentasikan dalam tulisan kontemporer di Indonesia. Setiap Ramadan, media-media Indonesia mengalami proses ‘Islamisasi’ sementara. Surat-surat kabar menyediakan banyak rubrik khusus untuk artikel tentang Ramadan.

Toko-toko buku pun memajang lebih banyak buku bimbingan Ramadan. Stasiun-stasiun televisi menyiarkan beragam sinetron Ramadan. Radio dan pusat perbelanjaan menggemakan lebih banyak lagu dan musik Islami. Toko-toko yang menjual barang-barang terkait Ramadan pun menjamur di berbagai tempat.

Yang menarik dicermati juga, kemunculan komentator Ramadan dalam beragam media. Media cetak, elektronik dan digital mengundang ulama, sarjana, mubalig atau pengamat untuk menulis seputar Ramadan.

Biasanya, setiap ulasan diawali dengan definisi “Ramadan adalah..” atau “puasa adalah..” (Om Google menemukan masing-masing 688,000 dan 422,000 entri untuk kedua kalimat itu).

Ramadan jelas menjadi teks penakwilan hermeneutik dan konteks pemaknaan semiotik yang selalu menarik bagi masyarakat Muslim. Para penafsir Ramadan tak mesti mereka yang memiliki otoritas keilmuan yang relevan.

Bermodalkan bacaan buku-buku terjemahan atau unduhan artikel-artikel digital dari internet seseorang bisa jadi komentator Ramadan. Yang juga menarik, platform media sosial seperti Facebook dan WhatsApp tetiba disesaki puluhan tautan artikel tentang Ramadan.

Siapa pun tentu layak bicara tentang Ramadan sesuai pengalaman pribadi masing-masing. Syaratnya, dia harus pernah menjalani sendiri ritus-ritusnya. Pada titik ini, setiap ulasan personal tentang puasa, misalnya, adalah sahih secara subjektif.

Kegelian baru muncul jika seseorang bicara tentang puasa tidak menurut perspektif pribadi atau disiplin keilmuannya. Faktanya, ritual puasa bisa diulas dalam berbagai perspektif: fiqih, tafsir, psikologi, tasawuf, kesehatan dsb.

Yang lucu jika, misalnya, seorang dokter anestesi berani bicara tentang puasa menurut ushul fiqih. Atau insinyur pertanian mengulas dalam perspektif Al-Quran. Sosiolog membahas keutamaan puasa berdasarkan hadis Nabi. Ilmuan politik meneroka puasa dalam pandangan tasawuf.

Karena penulis kolom ini hanya penggiat antropologi, celotehannya di sini lebih mengikuti jejak Moller; menulis tentang Ramadan secara antropologis (walau terkadang juga teologis-filosofis).(*)

 SELANJUTNYA…. Wahyuddin Halim mengulas Ramadan lebih teologis dalam Refleksi Ramadan di Tribun Timur cetak edisi Senin, 21 Mei 2018.

 

Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help