Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2018 atau 1439 H untuk Seluruh Daerah di Indonesia di Sini

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan 1439 Hijriah bagi yang menjalankannya.

Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2018 atau 1439 H untuk Seluruh Daerah di Indonesia di Sini
TRIBUN JOGJA
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2018 atau 1439 H untuk seluruh daerah di Indonesia. 

Sebagai tambahan, terdapat pula awal waktu Imsak dan kadangkala waktu Dhuha.

Bedanya, jadwal waktu lima shalat wajib di bulan suci Ramadan memberikan penekanan terhadap waktu Imsak.

Dari sinilah nama imsakiyah berasal, disamping juga pada waktu Maghrib.

Waktu Imsak sejatinya bukanlah bagian waktu shalat wajib, melainkan tambahan sebelum awal waktu Shubuh bermula.

Tidak seluruh mazhab dalam Islam menyatakan eksistensi waktu Imsak, sehingga jika kita misalnya berkelana ke kawasan Timur Tengah takkan kita jumpai adanya waktu Imsak.

Waktu Imsak hanya sebagai pengingat bahwa awal waktu Shubuh sebagai tanda dimulainya puasa Ramadan hari itu bakal segera tiba sebentar lagi.

Waktu lima shalat wajib merupakan waktu Matahari, sehingga hanya bergantung pada kedudukan Matahari.

Tidak seperti hilal yang masih belum terdefinisi dengan jelas, waktu-waktu lima salat wajib telah dinyatakan cukup jelas dan tak ada perbedaan pendapat (khilafiyah) tentangnya.

Waktu Shubuh, misalnya, diawali dari terbitnya cahaya fajar senyata (fajar shadiq) di cakrawala timur dan berakhir saat Matahari terbit (syuruq).

Waktu Dhuhur berawal pada kulminasi atas (istiwa’) Matahari dan berakhir pada saat Ashar.

Waktu Ashar dimulai pada saat panjang bayang-bayang pendulum sama dengan panjang pendulumnya setelah memperhitungkan waktu Dhuhur dan berakhir saat Maghrib.

Waktu Maghrib dimulai pada saat terbenamnya Matahari dan berakhir pada saat Isya’.

Dan waktu Isya’ berawal pada saat cahaya senja senyata (syafaq ahmar) tepat menghilang dari cakrawala barat dan berakhir pada saat Shubuh.

Definisi tersebut lantas diturunkan dalam elemen geometris Matahari.

Pada penurunan inilah ada sedikit perbedaan antara Indonesia dengan mancanegara.

Bagi waktu Dhuhur, ‘Ashar dan Maghrib memang tak dijumpai perbedaan.

Tidak demikian halnya bagi waktu Isya’ dan Shubuh, yang memiliki pilihan berbeda seperti dari Egyptian General Authority of Survey (EGAS), Islamic Society of North America (ISNA), Moslem World League (MWL) dan University of Islamic Sciences Karachi (Pakistan).

Pilihan-pilihan tersebut mendeskripsikan tinggi Matahari bagi waktu Isya’ dan Shubuh yang berbeda-beda.

Misalnya, dalam pilihan EGAS tinggi Matahari untuk waktu Isya’ dan Shubuh masing-masing adalah -17,5 derajat (di bawah cakrawala barat) dan -19,5 derajat (di bawah cakrawala timur).

Namun bagi ISNA pilihannya adalah sama-sama -15 derajat baik untuk Isya’ maupun Subuh. Kementerian Agama tidak menggunakan satupun pilihan itu, namun memiliki opsinya sendiri merujuk pendapat (alm) Saadoe’din Djambek.

Waktu Isya ditetapkan tinggi Mataharinya -18 derajat dari cakrawala barat sementara waktu Shubuh -20 derajat dari cakrawala timur.

Pertemuan BHR tahun 2010 menegaskan pilihan ini adalah sementara, selagi rukyat cahaya fajar dan senja, yang secara teknis jauh lebih sulit ketimbang rukyat hilal, di Indonesia masih berlangsung untuk mengetahui sifat-sifatnya lebih lanjut.

Sedangkan waktu Imsak dinyatakan sebagai 10 menit sebelum waktu Shubuh dan tak terkait dengan fenomena alamiah apapun, termasuk cahaya zodiak (fajar kadzib).

Tepat

Dengan mengacu opsi tersebut, jadwal imsakiyah disusun dengan perhitungan (hisab) berbasis algoritma posisi Matahari untuk titik acuan (markaz) tertentu yang khas bagi suatu wilayah administratif (kabupaten/kota).

Tiap wilayah administratif memiliki titik acuan dengan koordinat dan elevasinya (dari paras air laut rata-rata) sendiri-sendiri.

Hasil hisab dioptimalisasi dengan menyertakan faktor toleransi (ihtiyaath) yang memperhitungkan karakteristik geografis wilayah administratif itu, mulai dari lebarnya (dari timur ke barat) hingga selisih elevasinya (antara titik acuan dengan lokasi pemukiman tertinggi).

Dengan demikian, jadwal imsakiyah bisa berlaku bagi segenap titik di wilayah administratif tersebut tanpa terkecuali. Inilah yang membuat jadwal imsakiyah khas bagi wilayah administratifnya.

Maka dua kabupaten/kota yang berdampingan tetap memiliki jadwal imsakiyahnya masing-masing seiring perbedaan karakter geografisnya.

Indonesia terdiri dari 497 kabupaten/kota sehingga idealnya juga memiliki 497 jadwal imsakiyah yang berbeda-beda.

Pada masa kini, menyusun jadwal imsakiyah sebanyak itu sebenarnya tidaklah sulit seiring tersedianya teknologi komputasi yang menghemat waktu dan tenaga, sehingga perhitungan dapat dilakukan secara semi otomatis dengan tetap mematuhi prinsip-prinsip dasar penyusunan waktu salat.

Namun, sebagian kita kadang mencoba bertindak praktis dengan sekedar memindahkan jadwal imsakiyah dari titik acuan kota besar tertentu ke suatu daerah dengan hanya menggunakan koreksi waktu. H

al ini sesungguhnya tidak dianjurkan. Memang ada koreksi waktu, yang berdasarkan selisih garis bujur antara dua tempat, sehingga misalnya bagi Serang (Banten) cukup ditambah +2 menit dari Jakarta.

Akan tetapi, koreksi waktu ini hanya berlaku untuk awal waktu Dhuhur.

Sementara bagi awal waktu shalat lainnya tidaklah demikian karena tak sekedar dipengaruhi oleh kedudukan garis bujurnya namun juga garis lintang.

Beragamnya jadwal imsakiyah yang beredar di publik untuk satu wilayah administratif tertentu terjadi oleh bermacam sebab. Misalnya, akibat koordinat/elevasi titik acuan yang tak sama, pilihan waktu Shubuh dan Isya yang tak sama hingga pilihan faktor toleransi yang tak sama.

Dapat terjadi pula jadwal tersebut sesungguhnya dihitung untuk titik acuan lain namun dipindahkan ke tempat tersebut dengan hanya berdasar koreksi waktu.

Keragaman ini tentu membingungkan, terlebih dalam bulan Ramadhan yang mengandung klausul mengakhirkan waktu sahur dan menyegerakan berbuka.

Salah pilih jadwal dapat berujung pada batalnya puasa meski tanpa sengaja.

Lantas, mana yang tepat dan bisa digunakan? Rukyat-lah jawabannya, khususnya rukyat posisi Matahari pada momen tertentu seperti awal waktu Shuhur maupun terbit dan terbenamnya Matahari (awal Maghrib).

Ini bisa dilakukan dengan mengobservasi Matahari secara langsung lewat teknik rukyat yang aman.

Bisa pula dengan meneranya pada jam Matahari/bencet (sundial), misalnya menggunakan jam Matahari terbesar seperti di Masjid Tegalsari Surakarta (Jawa Tengah).

Jadwal imsakiyah yang tepat adalah jadwal yang waktu Dhuhurnya bersesuaian dengan kulminasi atas Matahari sementara waktu Maghribnya tepat bersamaan dengan terbenamnya Matahari.(*)

Artikel ini telah tayang pada Kompas.com dengan judul "Di Balik Kisah Jadwal Imsakiyah", https://nasional.kompas.com/read/2013/07/19/1621344/Di.Balik.Kisah.Jadwal.Imsakiyah.

Editor: Edi Sumardi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help