Citizen Reporter

Panitia Perayaan Waisak Bersama se-Sulselbar Gelar Dhammasakaccha

Salah satu rangkaian kegiatan sosial keagamaan dan sosial kemasyarakatan dalam menyongsong Hari Trisuci Waisak 2562 TB. / 2018 M.

Panitia Perayaan Waisak Bersama se-Sulselbar Gelar Dhammasakaccha
CITIZEN REPORTER
Foto bersama panitia pelaksana dari Keluarga Buddhis Brahmavihara (KBBV) Makassar dengan Bhikkhu Sangha Theravada Indonesia, yaitu : (kiri ke kanan) Samanera Saccasilo, Bhikkhu Siriratano Thera, CPS┬«, Bhikkhu Santacitto, Ph.D. dan Samanera Lam Kie On. 

Citizen Reporter, Miguel Dharmadjie, S.T., CPS®, Ketua Panitia Perayaan Waisak Bersama se-Sulselbar Tahun 2562 TB. / 2018 M.

 Menyambut Hari Trisuci Waisak 2562 TB. / 2018 M., Panitia Perayaan Waisak Bersama se-Sulselbar Tahun 2562 TB. / 2018 M. menggelar kegiatan Dhammasakaccha (Pembahasan Dhamma) bertema “Mengapa harus Praktik Dhamma” dengan narasumber YM. Bhikkhu Santacitto, Ph.D. (Pakar Agama Buddha / Buddhist Studies lulusan S-3 University of Kelaniya, Sri Lanka) pada Minggu (13/05) siang di Kapoposang Room, Aston Makassar Hotel & Convention Center, Makassar.

Dalam Dhammasakaccha dengan panitia pelaksana adalah Keluarga Buddhis Brahmavihara (KBBV) Makassar ini nampak hadir : Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Sangha Theravada Indonesia YM. Bhikkhu Siriratano Thera, CPS®, Samanera Saccasilo, Samanera Lam Kie On, Ketua Panitia Perayaan Waisak Bersama se-Sulselbar Tahun 2562 / 2018 Miguel Dharmadjie, S.T., CPS®, Sekretaris Keluarga Buddhis Brahmavihara (KBBV) Makassar Julianti Pangandaheng, SE., pengurus berbagai vihara, klenteng dan organisasi buddhis serta sekitar 300 orang umat Buddha yang hadir dari berbagai daerah di Sulsel.

Mengawali pembahasannya Bhikkhu Santacitto mengatakan hidup di alam samsara diibaratkan seperti berada di hutan rimba. Terdapat berbagai macam ancaman, teror dan kesulitan. Dhamma penting untuk dimiliki dan dipraktikkan karena Dhamma ibarat peta sekaligus pedoman bagi seseorang agar selamat di tengah-tengah kesulitan tersebut, hingga akhirnya membawanya kepada pulau yang benar-benar aman (Nibbana).

“Hidup adalah perubahan dimana kenyataan berbeda dengan harapan. Untuk itu diperlukan praktik Dhamma agar kita dapat tetap sabar, tenang dan seimbang dalam kehidupan ketika perubahan terjadi. Dengan melatih batin, kita dapat tenang menerima kenyataan dan tidak akan menderita. “Marilah memperindah dan mempercantik batin demi menghilangkan kekotoran batin. Praktikkan Jalan Mulia Berunsur Delapan dan Empat Kebenaran Mulia yang merupakan keseluruhan ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehar-hari, “ajak bhikkhu Sangha Theravada Indonesia yang berdomisili di Mendut ini.

Dhammasakaccha merupakan salah satu rangkaian kegiatan sosial keagamaan dan sosial kemasyarakatan dalam menyongsong Hari Trisuci Waisak 2562 TB. / 2018 M.

Hari Trisuci Waisak memperingati tiga peristiwa agung yang berkenaan dengan kehidupan Sang Buddha Gotama yang terjadi dalam bulan Vaisaka, yaitu : Kelahiran Pangeran Siddharta Gotama di Taman Lumbini (623 SM), Petapa Gotama mencapai keBuddhaan dan menjadi Sang Buddha di Bodh Gaya (588 SM) dan Sang Buddha Gotama Mangkat atau ber-Parinibbana (543 SM). Hari Trisuci Waisak 2562 TB. / 2018 M. akan diperingati pada Selasa (29/05) mendatang. Adapun tema nasional Hari Trisuci Waisak 2562 TB. / 2018 M. Sangha Theravada Indonesia, yaitu : “Bertindak, Berucap dan Berpikir Baik Memperkokoh Keutuhan Bangsa”. (*)

Penulis: CitizenReporter
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help