Ketua GNPHI Pinrang Harap Pemerintah Peduli Kesejahteraan Perawat

Harapan itu dipanjatkan Akbar dalam merespon momentum Hari Perawat Sedunia yang diperingati setiap 12 Mei.

Ketua GNPHI Pinrang Harap Pemerintah Peduli Kesejahteraan Perawat
handover
Ketua Gerakan Nasional Perawat Honorer Indonesia (GNPHI) Pinrang, Akbar S Ujohn

Laporan Wartawan TribunPinrang.com, Hery Syahrullah

TRIBUNPINRANG.COM, WATANG SAWITTO - Ketua Gerakan Nasional Perawat Honorer Indonesia (GNPHI) Pinrang, Akbar S Ujohn berharap pemerintah lebih memperhatikan profesi perawat.

Harapan itu dipanjatkan Akbar dalam merespon momentum Hari Perawat Sedunia yang diperingati setiap 12 Mei.

"Perawat merupakan salah satu pekerjaan mulia, tentu patut lebih diberikan apresasi dan perhatian oleh pemerintah," tuturnya kepada TribunPinrang.com, Minggu (13/5/2018).

Dalam momentum tersebut, Akbar juga membeberkan sejumlah fakta terkait kondisi yang kerap dialami perawat saat ini.

"Perawat memegang peranan penting dalam kegiatan operasional harian di rumah sakit. Mereka tidak lelah merawat pasien yang sedang sakit dan tak ada yang bisa membantah itu," katanya.

Baca: Peringati Hari Perawat Internasional, PSC 119 Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Baca: Telan Jarum Pentul Saat Perbaiki Jilbab, Siswi SMAN 1 Anggeraja Ini Harus Mendapat Perawatan Medis

Di sisi lain, perawat juga dituntut harus punya jiwa ramah dan santun dalam melayani pasien. Apalagi peran mereka sangat urgent untuk kesembuhan pasien.

"Tentu senatiasa kami harapkan agar supaya perawat dapat meningkatkan motivasi serta semangat profesionalnya dalam bekerja. Untuk itu, pemerintah pun harus memperhatikan kesejahteraan perawat itu sendiri," tuturnya.

Meski demikian, lanjutnya, tak dipungkiri juga bahwa perawat belum mampu menunjukkan kemampuan yang memadai dalam memberikan pelayanan yang komprehensif. Hal ini bukan kesalahan mutlak dari individu perawat, melainkan banyak kontribusi kelemahan yang disumbangkan oleh sistem maupun regulasi itu sendiri.

Saat ini, banyak perawat yang berstatus honor maupun magang di instansi pemerintah dan swasta yang tidak mendapatkan penghasilan layak secara finansial maupun moril.

"Hal ini jelas tak berimbang, masa dituntut bekerja professional tetapi dibayar seadanya. Tentu ini juga berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial kepada profesi kesehatan lainnya yang justru mendapatkan segala sesuatu yang lebih layak. Baik dari sisi regulasi maupun finansial," jelasnya.(*)

Penulis: Hery Syahrullah
Editor: Hasriyani Latif
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help