Thorig Husler Ngusaba di Benteng Luwu Timur

Menurutnya, dengan bersyukur maka Tuhan akan menambah nikmat dan rezeki dari apa yang diusahakan.

Thorig Husler Ngusaba di Benteng Luwu Timur
ivan ismar/tribunlutim.com
Umat Hindu di Desa Benteng, Kecamatan Burau, Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel), melaksanakan syukuran jelang panen atau Ngusaba, Jumat (11/5/2018). 

Laporan Wartawan TribunLutim.com, Ivan Ismar

TRIBUNLUTIM.COM, MALILI - Umat Hindu di Desa Benteng, Kecamatan Burau, Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel), melaksanakan syukuran jelang panen atau Ngusaba, Jumat (11/5/2018).

Bupati Luwu Timur, Thorig Husler dan rombongan juga ikut Ngusaba di Sanggar Tani Kelompok Pura Subak Mertasari Desa Benteng. Husler mengapresiasi upaya umat hindu menjaga ritual keagamaan dan kebiasaan yang berprofesi sebagai petani.

Menurutnya, dengan bersyukur maka Tuhan akan menambah nikmat dan rezeki dari apa yang diusahakan.

"Disisi lain, hal ini juga sangat penting untuk menjaga keseimbangan lingkungan alam. Bersyukur ini memang sangat penting artinya," tuturnya.

Lahan pertanian di wilayah Benteng seluas 325 hektare (Ha) dengan produktivitas mencapai 6.9 hingga 7,1 ton per hektare. Adapun luas persawahan keseluruhan di daerah berjuluk Bumi Batara Guru 28 ribu hektare.

Baca: Bupati Takalar Hadiri Pesta Panen Kaddo Bulo Bontomangape

Baca: Fakultas Peternakan Unhas Panen Perdana 20 Ribu Ekor Ayam

"Dalam waktu dekat, pemerintah akan memberikan alat pertanian dua unit traktor di desa ini untuk mempercepat produksi pertanian petani. Atur dengan baik pemanfaatannya," jelasnya.

Ia mengajak petani tetap fokus mengembangkan usaha pertanian, sebab kata Husler, pemerintah secara bertahap akan terus membantu alat pertanian setiap tahunnya.

Panitia Pelaksana Ngusaba, Ketut Arya Wibawa mengatakan, Ngusaba rutin dilaksanakan setiap jelang panen dengan dana swadaya petani.

Menurut keyakinan umat hindu, sebelum panen dilaksanakan harus didahului upacara ngusaba dengan sembahyang selama dua hari.

"Ketika manusia mampu menghargai alam, maka alam akan menghargai manusia," kata Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PDHI) Luwu Timur, Wayan Sudarsana.

Upacara diawali dengan Mapaktoyo atau menjemput air. Kemudian Ngawiwit atau menanam secara serentak. Dilanjutkan Nyepi Sawah dalam arti tidak boleh melakukan kegiatan di sawah setelah dilakukan Ngawiwit.

Kemudian upacara Mecaru atau menetralisir lingkungan agar tanaman tidak terganggu. Setelah muncul padi, dilakukanlah Ngusaba dan terakhir adalah Nyangket yang artinya pemotongan perdana (panen) dengan arit.

"Ngusaba itu erat kaitannya dengan menjaga keseimbangan alam, agar alam senantiasa dapat memberikan manfaat bagi masyarakat," tambahnya.

Hadir Kepala Dinas Penataan Ruang, Pemukiman dan Pertanahan, Zainuddin, Sekretaris Dinas Pertanian, Arifuddin, Kepala Dinas Pendidikan, La Besse, Kabag Humas dan Protokol, Alimuddin Bachtiar dan Kepala Desa Benteng, Andi Salahuddin.(*)

Penulis: Ivan Ismar
Editor: Hasriyani Latif
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help