Korupsi APBD Sulbar, JPU Hadirkan 2 Saksi Untuk Terdakwa Munandar Wijaya

Saksi pertama adalah Muh. Saleh yang mengaku sebagai kontraktor dan Yudi selaku staf Sekertariat DPRD Sulbar

Korupsi APBD Sulbar, JPU Hadirkan 2 Saksi Untuk Terdakwa Munandar Wijaya
nurhadi/tribunsulbar.com
Sidang kedua mantan wakil ketua DPRD Sulbar, Munandar Wijaya, dengan agenda pemeriksaan saksi di Pengadilan Tipikor Mamuju, 

 Laporan Wartawan TribunSulbar.com, Nurhadi

TRIBUNSULBAR.COM, MAMUJU - Terdakwa kasus dugaan korupsi APBD 2016, mantan Wakil Ketua DPRD Sulbar, Munandar Wijaya, menjalani sidang kedua di Pengadilan Tipikor Mamuju, Jl. AP Pettarani, Kelurahan Binanga, Kecamatan Mamuju, Kamis (3/5/2018).

Sidang kedua dengan agenda pemeriksaan saksi fakta, dipimpin oleh Ketua Pengadilan Negeri Mamuju, Beslin Sihombing, selaku ketua majelis hakim didampingi dua anggota majelis hakim Irawan Ismail dan Andi Adha.

Dalam persidangan ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan dua orang saksi. Saksi pertama adalah Muh. Saleh yang mengaku sebagai kontraktor dan Yudi selaku staf Sekertariat DPRD Sulbar yang bertugas di ruangan Munandar Wijaya kala itu.

Muh. Saleh mengaku telah mengerjakan 13 paket perkejaan dari pokok pikiran terdakwa. Masing-masing delapan paket pekerjaan pekerjaan di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) dan lima paket pekerjaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulbar.

Dalam perkara ini, saksi mengaku dari belasan paket pekerjaan yang merupakan aspirasi atau pokok pikiran dari hasil reses Munandar Wijaya yang telah diikuti beberapa kali, didapatkan melalui perantara Kepala Bidang PSDA Dinas PUPR, Rahmat Barawaja dengan cara penunjukan langsung.

Sebelum melakukan pengerjaan proyek, saksi juga mengaku bertemu dengan salah seorang bernama Yusuf yang juga salah seorang pegawai PUPR dan diarahkan untuk bertemu seorang bernama Amirullah selaku pejabat pengadaan di Pemprov Sulbar.

Meski diaku bahwa paket pekerjaan yang tangani merupakan aspirasi terdakwa, namun dalam persidangan saksi mengaku bukan merupakan titipan dan orang terdekat terdakwa. Bahkan, mengaku tidak memberikan fee dari pekerjaan kepada siapapun termasuk kepada terdakwa.

"Semua perusahaan yang saya peket adalah perusahaan yang saya pinjam melalui Gapeksindo, saya ke Gapekaindo menanyakan perusahaan mana saya yang memenuhi persyaratan kemudian saya masukkan profil perusahaannya di PSDA,"kata di depan majelis hakim.

"Saya mengetahui kalau pekerjaan ini ada karena saya memeng sering ikut dalam reses pak Munandar Wijaya pada tahun 2015,"ujarnya.

Bahkan, saksi dengan terbata-bata, juga mengaku telah mengikuti reses sejumlah anggota DPRD Sulbar lainnya, diantaranya Yahuda dan Sukri yang keduanya dari Fraksi Demokrat.

Sementara dalam persidangan, saksi kedua Yudi mengaku tidak banyak tahu-menahu terkait pokok-pokok pikiran Munandar Wijaya yang telah muncul dalam persidangan perkara dugaan korupsi itu.

"Staf hanya staf umum di DPRD Sulbar yang ditempatkan di ruangan terdakwa. Sementara dokumen pokir saya hanya antara ke Bappeda atas perintah terdakwa, tapi pada saat itu saya tidak tahu kalau itu dokumem Pokir,"katanya.

"Munandar bilang tolong bawakan ke Bidang Makro Bappeda, nanti saya tahu kalau yang saya antar adalah dokumen pokir setelah ada panggilan dari Kejati untuk dimintai keterangan,"lanjutnya.

Penulis: Nurhadi
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help