Relawan Sahabat KITA Pinrang Beberkan Tips Atasi Kekerdilan Anak di Majene

Stunting terjadi disebabkan faktor kekurangan gizi kronis yang sangat perlu untuk dicegah.

Relawan Sahabat KITA Pinrang Beberkan Tips Atasi Kekerdilan Anak di Majene
TRIBUN TIMUR/HERY SYAHRULLAH
Penyuluhan kesehatan di Desa Awo, Kecamatan Tamme Ro'do Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, Senin (30/4/2018) malam. 

Laporan Wartawan TribunPinrang.com, Hery Syahrullah

TRIBUNPINRANG.COM, WATANG SAWITTO - Sejumlah dokter yang tergabung dalam relawan Komunitas Sahabat KITA Pinrang menggelar penyuluhan terkait upaya pencegahan stunting (kekerdilan) pada anak.

Penyuluhan yang dihadiri puluhan masyarakat itu di gelar di Desa Awo, Kecamatan Tamme Ro'do Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, Senin (30/4/2018) malam.

Salah seorang relawan, dr Nurul Hidayah menyampaikan beberapa hal terkait seluk-beluk stunting tersebut.

"Stunting itu merupakan kondisi di mana tinggi badan seorang anak di bawah standar rata-rata dari anak seumurannya. Meski demikian, tak semua anak atau balita yang pendek, masuk kategori stunting. Bisa saja karena faktor gen," kata perempuan yang akrab disapa Nuhi ini.

Ia menjelaskan, kasus stunting masuk dalam kategori paling banyak terjadi di Indonesia.

"Data menyebutkan, sebanyak 39,7 persen kasus ini terjadi di Indonesia. Kalau dinominalkan, maka bekisar 9 juta anak mengalami problem ini," jelas Nuhi.

Menurut Alumnus Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar ini, stunting terjadi disebabkan faktor kekurangan gizi kronis yang sangat perlu untuk dicegah. Itu karena banyak hal yang akan terjadi ke depan jikalau tak ada upaya pencegahan.

"Termasuk berdampak pada minimnya kualitas IQ anak," ujar Nuhi.

Perempuan asal Kendari ini menambahkan, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah stunting. Di antaranya, anak harus diberikan pupuk yang bagus pada 1000 hari kehidupan pertama (dihitung sebelum lahir), seorang ibu hamil harus memakan makanan yang mengandung gizi baik dengan memberi makanan tambahan untuk mengatasi kekurangan energi dari protein kronis.

Selain itu, seorang ibu juga harus memberi ASI eksklusif untuk bayi hingga berusia 6 bulan.

"Pemberian ASI juga tetap disarankan hingga bayi berusia 23 bulan," pungkas Nuhi. (*)

Penulis: Hery Syahrullah
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help