Henny Kristianus Sekolahkan 5.000 Anak di Pedalaman Indonesia, Tiap Bulan Habiskan Rp 700 Juta

"Rata-rata kita keluarkan Rp 700 juta per bulan untuk memfasilitasi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi kerakyatan," kata ibu tiga anak itu.

Henny Kristianus Sekolahkan 5.000 Anak di Pedalaman Indonesia, Tiap Bulan Habiskan Rp 700 Juta
HANDOVER
Founder Tangan Pengharapan, Henny Kristianus

Laporan Wartawan Tribun Timur, Muhammad Fadhly Ali

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -Founder Tangan Pengharapan, Henny Kristianus merupakan satu dari sekian banyak perempuan Indonesia yang peduli terhadap warga di Daerah Tetinggal, Terluar, dan Terdalam (3T).

Pada Youth Town Hall diskusi, kolaborasi, dan aksi yang digelar XL Axiata di Amphi Theatre Trans Studio Theme Park (TSTP) Jl Metro Tanjung Bunga Makassar Henny menuturkan, Yayasan Tangan Pengharapan didirikan sejak kepulangannya ke Indonesia pada 26 April 2006 lalu.

Sebelumnya, ia telah menikah di Australia. Saat itu ia minta izin ke suaminya, Yohanes Kristianus, ingin beristirahat selama 2 bulan dan pulang ke Indonesia pasca melahirkan kedua anak kembarnya, Chloe Kristianus dan Zoe Kristianus.

Saat itu kedua anaknya baru berusia 4 bulan. Sang suami pun setuju bahkan ikut mengantarnya ke Indonesia.

Namun selama di Indonesia, suara hatinya seperti menyuruh Henny untuk terus tinggal. Setelah dua bulan berlalu, suaminya yang tetap berada di Australia karena mengurusi bisnisnya di sana pun, datang menjemput.

Saat itu juga, Henny menyampaikan niatnya untuk tetap tinggal di Indonesia. Keputusan yang dianggapnya cukup ‘gila’ mengingat di Australia ia dan suami sudah mendapatkan Permanent Residence. Sementara jika ia tetap tinggal di Indonesia berarti harus memulai semuanya dari nol.

"Tapi sang suami akhirnya setuju. Dikarenakan ada dorongan dari teman-temannya kala dipanggil share tentang hidupnya," katanya.

Sejak dirintis hingga kini, sudah ada 5.00  anak dari wilayah 3T dari 56 titik yang diberikan beasiswa hingga kuliah.

"Rata-rata kita keluarkan Rp 700 juta per bulan untuk memfasilitasi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi kerakyatan," kata ibu tiga anak itu.

Dari mana dananya?

"Kami punya link tidak hanya di Indonesia, ada juga dari Australia, Taiwan, dan lainnya. Saya mencari donasi dengan menawarkan beberapa produk seperti baju dan topi dengan tulisan inspirasi, serta batik kekinian," katanya. (*)

Penulis: Muhammad Fadly Ali
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help