Diskusi di Pinrang, Ini Ulasan Dua Narasumber Terkait Puisi Sukma

Dirja mengingatkan, agar umat seyogyanya tak mudah terprovokasi dengan isu-isu yang beredar di publik.

Diskusi di Pinrang, Ini Ulasan Dua Narasumber Terkait Puisi Sukma
hery syahrullah/tribunpinrang.com
Sejumlah komunitas pemuda menggelar Diskusi Intensif (Diksi) di Rumah Kreatif Corat Coret, Jl Bulu Manarang, Kecamatan Watang Sawitto, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, Sabtu (14/4/2018). 

Laporan Wartawan TribunPinrang.com, Hery Syahrullah

TRIBUNPINRANG.COM, PALETEANG - Sejumlah komunitas pemuda menggelar Diskusi Intensif (Diksi) di Rumah Kreatif Corat Coret, Jl Bulu Manarang, Kecamatan Watang Sawitto, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, Sabtu (14/4/2018).

Kegiatan yang diinisiasi KosaKata, CoratCoret dan Sahabat Kita itu mengangkat tema "Indonesia dan Polemik Puisi Sukma".

Dalam diskusi itu, menghadirkan dua narasumber, yakni Dirja Wiharja selaku penggiat literasi dan Subair Umam selaku ketua Lakpesdam NU Pinrang.

Dalam ulasannya, Dirja mengemukakan penyebab utama sehingga keributan kerap terjadi ketika publik menyoal sebuah masalah. Termasuk soal polemik Puisi Sukma.

Baca: Gelar Diksi di Rumah Kreasi Corat Coret, Komunitas Pemuda Pinrang Bahas Puisi Sukma

Baca: Malam Ini, Diskusi Polemik Puisi Sukma di Rumah Kreatif Corat Coret Pinrang

"Kenapa problem kerap membesar, itu karena dua hal. Yakni kita cenderung tergesa-gesa menyikapi sesuatu dan kerap tak kuasa menahan diri," tuturnya.

Dirja mengingatkan, agar umat seyogyanya tak mudah terprovokasi dengan isu-isu yang beredar di publik dan mempelajari dengan teliti pokok permasalahan.

"Ketahuilah, ada dua yang kerap menjadi biang perpecahan. Yakni sesuatu yang tak difahami dan sesuatu yang tidak jelas atau samar-samar," tuturnya.

Sementara itu, Subair Umam lebih memandang polemik puisi Sukma itu secara kontekstual.

"Puisi Sukmawati itu dibuat 2006, lalu kenapa baru booming dan viral di tahun 2018. Jadi saya melihat ada perubahan konteks. Konteksanya di sini bisa apa pun itu. Bisa saja faktor politik, ekonomi, atau konstalasi gerakan keagamaan," jelasnya.(*)

Penulis: Hery Syahrullah
Editor: Hasriyani Latif
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help