Yohana: Sulbar Nomor 1 Angka Pernikahan Dini di Indonesia

Yohana mengatakan, Badan Pusat Statistik (BPS) berkerjasama dengan Badan Dunia untuk Anak-anak (UNICEF) meliris data

Yohana: Sulbar Nomor 1 Angka Pernikahan Dini di Indonesia
nurhadi/tribunsulbar.com
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP-PA) Republik Indonesia (RI), Yohana Yombise, menyampaikan sambutan pada acara kampanye pencegahan pernikahan anak di Mamuju, Sulbar, Kamis (12/4/2018). 

Laporan Wartawa TribunSulbar.com, Nurhadi

TRIBUNSULBAR.COM, MAMUJU - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP-PA) Republik Indonesia (RI), Yohana Yombise, menuturkan hingga saat ini Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) masih menempati urutan pertama kasus pernikahan dini di Indonesia.

Hal itu disampaikan Menteri Yohana, dalam sambutannya di acara kampanye pencegahan pernikahan anak di Sulawesi Barat, di halaman rumah jabatan (Rujab) Wakil Bupati Mamuju, Jl. Ahmad Kirang, Kelurahan Binanga, Kecamatan Mamuju, Kamis (12/4/2018)

"Dilihat dari sisi global satu dari tiga penduduk Indonesia adalah anak atau terdapat 87 juta penduduk Indonesia yang harus mendapatkan pemenuhan hak dan perlindungan khusus dari tindak kekerasan, diskriminasi termasuk tindakan perkawinan dini," kata Yohana.

Yohana mengatakan, Badan Pusat Statistik (BPS) berkerjasama dengan Badan Dunia untuk Anak-anak (UNICEF) meliris data perkawinan usia anak pertama kali. Pada laporan tersebut angkat perkawinan usia anak atau perkawinan di bawah umut 18 tahun di Indonesia tergolong tinggi atau mencapai 23 persen.

"Data ini angkat yang cukup tinggi. Bayangkan saja jika ada 100 perkawinan di Indonesia maka 23 diantaranya perkawinan yang didalamnya adalah anak," ujarnya.

Dikatakan, Indonesia juga tercatat salah satu dari 10 negara di dunia atau tepatnya di urutan ke-7 dengan angkat penganting anak tertinggi. Atau tertinggi kedua di Asena setelah Kambodja.

Berdasarkan data 2016 dari UNICEF disebutkan bahwa angka penganting anak lebih banyak terjadi di pedesaan dengan angkat 27,11 persen, dibandingkan di perkotaan berada pada angkat 17,0 persen.

Menurut data BPS Sulbar tahun 2015 merilis ada 11,58 persen anak di Sulbar menikah pada usia di bawah 16 tahun. Kemudian laporan BPS tahun 2016 analisis data perkawinan anak di Provinsi Sulbar menempati urutan pertama di Indonesia dengan nilai 37 persen.

"Hal ini diperkuat dengan pendataan keluarga terkait anak usia pertama di tahun2017. Bahwa untuk perempuan yang menikah di bawah usia 21 tahun mencapai 117.741 orang dan laki-laki yang menikah dibawah 25 tahun mencapai 94.567 orang," jelasnya.

"Melihat dari angka ini, sudah kewajiban kita semua bersama seluruh unsur pemerintah dan masyarakat Sulbar termasuk medi, untuk bersama-sama menurunkan perkawinan anak usia dini sehingga bisa menyelamatkan hak-hak anak untuk tumbuh kembang termasuk perlindungan khusus," harapnya.

Sekedar diketahui, Sulbar merupakan provinsi ke-33 terbentuk di Indonesia dengan jumlah penduduk 1,3 juta jiwa.

Penulis: Nurhadi
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help