opini

Opini Mahasiswa S3 Hukum Unhas: Konsekuensi Menjadi Pelayan Kesehatan

Terlepas dari rasa suka atau tidak, hukum positif Indonesia memberikan kedudukan privilege (hak istimewa) bagi pasien dalam pelayanan kesehatan.

Opini Mahasiswa S3 Hukum Unhas: Konsekuensi Menjadi Pelayan Kesehatan
handover
Sakir Sila

Oleh: Sakir Sila
Karyawan Rumah Sakit/Mahasiswa S3 Hukum Unhas angkatan 2016

TULISAN ini terinspirasi dari perseteruan antara seorang oknum anggota DPRD dan seorang oknum dokter di salah satu rumah sakit di sekitar Kota Makassar.

Perseteruan itu terjadi awal mulanya karena sang dokter di Instalasi Gawat Darurat (IGD) menanyakan apa jenis pelayanan
yang akan digunakan oleh pasien yang juga keluarga oknum legislator tersebut: apakah berupa asuransi kesehatan (BPJS) ataukah yang lainnya.

Memilih pekerjaan menjadi pelayan kesehatan/tenaga kesehatan (dokter, perawat, bidan, apoteker, dan lainnya) adalah panggilan jiwa.

Jangan karena keterpaksaan, ingin mendapatkan prestise dari masyarakat atau karena agar mudah mendapat tempat sandaran hidup (mata pencaharian).

Seorang yang bercita-cita menjadi tenaga kesehatan adalah manusia (individu) yang harus mampu mengelola emosinya, baik rasa empatinya kepada pasien maupun kemampuan menahan amarahnya apabila mendapatkan pasien/keluarganya yang menjengkelkan.

BACA JUGA: Opini Kepala SMPN 1 Sengkang: Pendidikan Tanpa Roh

BACA JUGA: OPINI MOCH HASYMI IBRAHIM: Walikota Kita

Menuntut terlalu banyak melebihi kemampuan sang tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan, lebih-lebih kepada mereka yang hobi marah-marah.

Terlepas dari rasa suka atau tidak, hukum positif Indonesia memberikan kedudukan privilege (hak istimewa) bagi pasien dalam pelayanan kesehatan.

Halaman
1234
Editor: Jumadi Mappanganro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved