Home »

Maros

Petani Maros Menjerit, 140 Ton Gabah Hasil Kerja Keras Dijual Murah ke Bulog

Para petani dan pedagang datangi Kodim karena merasa telah dirugikan sekitar Rp 200 per kilogram.

Petani Maros Menjerit, 140 Ton Gabah Hasil Kerja Keras Dijual Murah ke Bulog
ansar/tribunmaros.com
Kodim 1422 Maros menghentikan enam truk pengangkut gabah sebanyak 140 ton di Poros Maros - Pangkep, Lau. Gabah dari Maros tersebut rencananya akan dibawa ke Kabupaten Sidrap dan Pinrang. 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Ansar Lempe

TRIBUN TIMUR.COM, MAROS - Sejumlah pedagang dan petani di Maros terpaksa harus rugi hingga puluhan juta rupiah, akibat ulah Kodim 1422 yang telah melakukan operasi Serapan Gabah Petani (Sergap) sekitar sepekan, Rabu (14/3/2018).

Sejumlah petani dari Bantimurung dan Simbang, yang dipimpin Kepala Desa Alatenggae, Abdul Azis telah mendatangi Markaz Kodim, setelah peajurit mengamanakan 140 ton gabah di poros Maros-Pangkep, Kecamatan Lau.

Para petani dan pedagang datangi Kodim karena merasa telah dirugikan sekitar Rp 200 per kilogram.

Abdul Azis mengatakan, meski hasil pertemuannya dengan Dandim 1422 Maros, Letkol Kav Mardi Ambar, yang digelar pukul 15.00 wita, membuahkan hasil, namun 140 ton gabah yang telah disita tetap tidak dilepas.

Padahal, Dandim 1422 Maros, Letkol Kav Mardi Ambar, berjanji tidak akan lagi melakukan operasi Sergap untuk sementara.

Kodim mengarahkan pedagang untuk menjual gabahnya ke Bulog dengan harga Rp 4.500, padahal pedagang membeli gabah kisaran Rp 4.700 per kilogram.

"Iye, 140 ton itu tidak dilepas. Gabah itu diarahkan ke mitra dolog untuk dibayar dengan harga Rp 4500 kilogram," kata Ketua Asosiasi Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Maros ini.

Hal itu dibenarkan oleh seorang pengusaha gabah lokal Maros, Irwan. Menurutnya, 140 ton gabah yang dirazias oleh TNI langsung digiring ke salah satu mitra Bulog, H Rala Dkk.

"140 ton gabah itu dibawa ke gudang Haji Rala dkk. Dia yang ditunjuk sebagai mitra Bulog di Maros. Tidak ada gabah yang dilepas. Malah beberapa pengusaha tani dirugikan," katanya.

Para pedagang rugi hingga Rp 200 per kilogram atau Rp 28 juta untuk 140 ton. Harga Bulog hanya Rp 4.500 per kilogram dan pedagang kisaran Rp 4.700. Kerugian tersebut belum biaya transportasi dan buruh.

Penulis: Ansar
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help