Home »

Opini

Media Sosial, Informasi atau Ritualisme Baru?

jaman now, manusia menggunakan media bukan untuk memberi tahu tentang sesuatu, tapi media penyatuan diri dan ritualisme baru.

Media Sosial, Informasi atau Ritualisme Baru?
dok.tribun
Ilham Paulangi, Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Unhas/ Mahasiswa S2 Komunikasi Politik Universitas Jayabaya dan Pendiri Institut Literasi Pedesaan

Politik ketertarikan dan ekonomi berdasarkan komoditas, memisahkan manusia dengan menekankan perbedaan mereka. Perubahan ini mengarah pada munculnya peradaban yang mementingkan nilai-nilai kebebasan, demokrasi, sekaligus nilai-nilai perbedaan.

Media Sosial
Kemunculan media yang termediasi internet, utamanya kemunculan media sosial, juga telah
membawa bentuk-bentuk peradaban baru. Disadari atau tidak, masyarakat diera media sosial ini,
secara pelan-pelan, sedang mengurangi alokasi waktu untuk membaca koran dan televisi. Bahkan tidak sedikit individu, membaca berita, lewat kiriman, atau tautan yang diposting di media sosial.

Apa artinya, peradaban lama yang dipengaruhi oleh media lama, seperti surat kabar dan televisi juga dipastikan akan tergerus. Media sosial akan membawa sebuah realitas baru.

Perubahan pertama, bisa dilacak dari sisi perubahan hubungan, interaksi antar individu. Media lama, seperti surat kabar dan televisi lebih menekankan pada aspek aspek penyebaran informasi, dan sangat sedikit memberi peluang adanya interaksi diantara mereka.

Sebaliknya media sosial lebih lebih memuskan individu karena lebih bersifat interaktif. Selain itu juga, media sosial telah memberi pemahaman baru tentang komunikasi antar umat manusia. Dimana interaksi pribadi tidak lagi semata-mata mengandalkan tatap muka, tapi cukup melalui sebuah layar kecil atau gadget.

Perubahan lain, bisa dilihat pada perubahan tuntunan waktu yang baru. Sebagai contoh, seseorang bisa menghabiskan waktu beberapa jam sehari, lantaran harus menuliskan apa yang sedang dipikirkan, membuat perbincangan, atau sekedar mengecek berbagai notifikasi.

Proses ini sangat mudah dilakukan, dan kapan saja, karena gadget sangat jarang terlepas dari tangan. Perubahan ini membawa implikasi penting pada kebiasaan hidup dan peradaban, yang tak kelihatan beberapa tahun lalu.

Ritualisme Baru
Banyak pihak, termasuk ilmuan sendiri, sering bersikap underestimate terhadap media sosial, dengan mengaggapnya bodoh dan dangkal. Sebabnya, karena mereka masih menggunakan standar lamabahwa media adalah sumber informasi.

Padahal pada kenyataannya, sangat berbeda. Media sosial sesungguhnya bukan lagi sumber informasi, sebagaimana media lama, melainkan lebih merupakan sarana penyatuan diri (integrasi sosial) dengan individu lain.

Bahkan, media sosial sebenarnya, cenderung menjalankan fungsi-fungsi ritual daripada aspek interaksi dan ketertarikan. Manusia cenderung menggunakan media sosial sebagai media untuk menciptakan realitas. Media sosial memungkinkan individu untuk dapat saling menyatukan diri dan memiliki dengan individu yang lain.

Halaman
123
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help