VIDEO: Ini Tuntutan Pria yang Anaknya Tertembak Saat Ekseskusi 14 Rumah di Jeneponto

Dirinya juga meyakini, proyektil yang menembus dada putranya itu bukan peluru karet.

TRIBUNJENEPONTO.COM, MAKASSAR - Polisi melarang wartawan menemui keluarga korban tertembak di Kampung Batusaraung, Kelurahan Bontoramba, Kecamatan Bontoramba, Jeneponto.

Namun pada Minggu (11/03/2018) siang, tribunjeneponto.com berhasil menemui dan mewawancarai M Amir (54), ayah korban penembakan polisi, Arman Zulkifli (24) di depan IGD RS Wahidin Sudiro Husodo, Makassar.

M Amir pun menceritakan kondisi anaknya yang saat ini masih menjalani perawatan intensif di ruang IGD.

"Alhamdulillah sudah sedikit baikan, sudah bisa bicara, sudah sadar sekarang," kata Amir menjawab pertanyaan TribunJeneponto.com.

Sepengetahuan Amir, anaknya tertembak peluru petugas tepat dibagian dada.

"Dadanya yang dikena hampir kena jantung, tipis, tembus ke belakang," terang Amir.

Dirinya juga meyakini, proyektil  yang menembus dada putranya itu bukan peluru karet.

"Saya dengar bukan peluru karet, peluru tajam saya dengar karena itu malam saya rencana ke Propam Polda melapor, tapi Propam Polda sudah ada disini periksa," ungkapnya.

Dirinya pun meminta agar pelaku penembakan dapat diungkap dan diadili.

"Saya hanya minta keadlian pak, makanya saya kemarin mau ke Propam Polda melapor, saya minta pelakunya diadili juga," ujarnya.

Sementara korban tertembak lainnya, Rusli (35), kini menjalani perawatan di ruang perawatan Lontara Dua RS Wahidin Sudiro Husodo Makassar.

Kehadiran Arman dan Rusli di lokasi eksekusi lantaran rumah keluarganya masuk dalam daftar rumah yang diekseskusi oleh pihak Pengadilan Negeri Jeneponto.

Eksekusi 14 rumah itu dilakukan setelah penggugat satu bernama Hj Fatma Ugi, istri almarhum Abd Karim Sewang dan penggugat dua, Saban Sese Bin Abd Karim Sewang memenangkan perkara sengketa lahan di Kampung Batusaraung yang di atasnya berdiri 14 rumah.

Sementara tergugat, yaitu I Arungloe, Sukir, Baha, Saukang Dg Moli, Daeng Ngangki, Indira Makka, Abuhari Liwang, Nasir Dg Boya, Hafifah Ti'no, M Dg Nappu, Sari Bulaeng Intang, Tona Mancing, Nurdin, Masau dan Mansyur.

Proses eksekusi lahan yang didiami 14 rumah selama berpuluh-puluh tahun itu diwarnai kericuhan dan menyebabkan dua warga tertembak.

Penulis: Muslimin Emba
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help