Tengkulak di Maros Mengaku Dipaksa Jual Murah Gabah ke TNI

Seorang pengusaha gabah lokal Maros, Jamal mengaku, dipaksa oleh oknum Kodim 1422 untuk menjual gabahnya ke pihak TNI sebanyak 1 ton.

Laporan Wartawan Tribun Timur, Ansar Lempe

TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Seorang pengusaha gabah lokal Maros, Jamal mengaku, dipaksa oleh oknum Kodim 1422 untuk menjual gabahnya ke pihak TNI sebanyak 1 ton. Harganya juga lebih murah, Selasa (13/3/2018).

Pedagang membeli gabah dengan harga Rp 4.700 per kilogram. Namun pihak Kodim ingin membelinya 1 ton dengan harga Rp 4.500 per kilogram. Dia pun terpaksa memenuhi keinginan oknum tersebut.

"Kami terpaksa memberikannya, karena takut. Urusan rugi Rp 200 per kilogramnya, urusan belakang. Lebih baik begitu, daripada gabah saya 10 ton ditahan," katanya.

Kondisi tersebut membuat pengusaha gabah resah. Para pengusaha diminta untuk membeli gabah dengan harga rendah, sementara petani menginginkan harga tinggi.

Dia mencontohkan, di Desa Alatengae, Bantimurung, produksi gabah rata-rata 6 ton per hektare. Sementara luas area persawahan mencapai 600 hektare. Selisih harga sekitar Rp 200 per kilogram. Jika dikalkulasi, selisih secara keseluruhan mencapai Rp 720 juta.

"Kalau di Kecamatan Bantimurung, area persawahan secara keseluruhan mencapai 3.000 hektare. Maka akan ada selisih sekitar Rp 3,6 Miliar. Kalau se- Maros, luas sawah sekitar 26.000 hektar, selisih mencapai Rp 31 Miliar. Itu baru selisih Rp 200," katanya.

Sementara, Dandim 1422 Maros, Letkol Kav Mardi Ambar membatah keterangan pedagang, yang menuding prajuritnya membeli gabah. Prajurit hanya mengarahkan ke pengusaha supaya menjual gabahnya ke Bulog.

"Itu tidak benar. Intinya, kami hanya mencegah gabah itu dibeli oleh tengkulak. Kami arahkan, supaya gabah itu dibeli oleh Bulog. Kami hanya jalankan perintah," katanya. (*)

Penulis: Ansar
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved