CITIZEN REPORTER

IAI Sulsel-BNNP Sulsel Sulsel Gelar Edukasi Antinarkoba, Ini Tujuannya

Diikuti sekitar 270 apoteker yang umumnya berasal dari kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara,

IAI Sulsel-BNNP Sulsel Sulsel Gelar Edukasi Antinarkoba, Ini Tujuannya
CITIZEN REPORTER
Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia Sulawesi Selatan bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional Propinsi Sulawesi Selatan mengadakan kegiatan pelatihan Tim Edukasi Antinarkoba di baruga Anging Mammiri, Rujab Walikota Makassar (10/3/2018). 

Citizen Reporter, Aminullah Akademisi Unhas/Ketua Panitia

Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia Sulawesi Selatan bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional Propinsi Sulawesi Selatan mengadakan kegiatan pelatihan Tim Edukasi Antinarkoba di baruga Anging Mammiri, Rujab Walikota Makassar (10/3/2018).

Pelatihan ini diikuti sekitar 270 apoteker yang umumnya berasal dari kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, himpunan seminat Farmasi Distribusi, Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia Sulawesi Selatan beserta Pengurus Dewan Pengawas dan Pengurus Majelis Etik dan Disiplin Apoteker Indonesia Sulsel yang diwakili oleh Prof. Dr. H. M. Natsir Djide, MS., Apt. dan Drs. Hamka Hasan, M.Kes., Apt.

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, dr. Hj. A. Naisyah T. Azikin, M.Kes. Dalam sambutannya, beliau sangat mengapresiasi kegiatan ini yang merupakan terobosan yang dilakukan oleh Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia Sulsel.

"Masalah narkoba bukan lagi menjadi masalah nasional tapi sudah menjadi masalah global. Kegiatan pelatihan tim edukasi antinarkoba ini sangat bagus, mengingat maraknya sekarang peredaran narkoba. Apalagi, pesertanya dari Apoteker yang lebih mengerti obat-obatan sehingga sangat cocok dalam upaya pemberantasan dan penyalahgunaan narkoba" ujarnya.

Ketua PD IAI Sulsel, Prof. Dr. Gemini Alam, M.Si., Apt sangat mendukung kegiatan ini dan berharap ada kerjasama lanjutan dengan pihak BNN Propinsi Sulsel. "

Kegiatan pelatihan ini sangat bagus. Apoteker yang tentunya lebih paham tentang obat-obat narkoba. Sehingga masyarakat tentunya akan lebih mempercayai, jika apoteker yang menyampaikan bahaya dan dampak penggunaan narkoba. Kami berharap ada kerjasama lanjutan dengan pihak BNNP dalam pemberantasan dan penyalahgunaan narkoba khususnya di Sulawesi Selatan." ujarnya.

Pemateri kegiatan Tim Edukasi Antinarkoba PD IAI Sulsel yaitu Rosnifai Imam, S.KM., M.Kes.; Ida Putriani, S.E.; AKP Ilham Fitriyadi, S.E., S.H., M.H. dan H. M. Jamil Misbach, S.H., M.H.

Pada sesi 1 dibawakan oleh Rosnifai Imam, S.KM., M.Kes dengan judul Kebijakan Penegakan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). Mengawali materinya, Ibu Rosnifai membuat peserta tergeleng-geleng dengan memaparkan sejumlah data mengenai penyebaran dan penyalahgunaan narkoba di Indonesia dan khususnya di Sulaesi Selatan. “Indonesia Darurat Narkoba” ujarnya.

Sejumlah data yang mendukung ucapan beliau meliputi : (1) Daya rusak narkoba lebih serius dibanding korupsi dan terorisme, (2) Seluruh lapisan masyarakat telah terkontaminasi narkoba, (3) Narkoba telah menyebar ke seluruh pelosok wilayah dan menyasar kalangan anak-anak, (4) Penyalahgunaan narkoba di Indonesia sekitar 5 juta orang (5) Diperkirakan 40-50 orang meninggal dunia perhari karena narkoba dan kerugian akibat penyalahgunaan narkoba sekitar 63,1 trilyun rupiah, (6) Ditemukan 41 jenis narkoba baru dan jumlahnya terus berkembang, (7) Jaringan narkoba yang beroperasi di Indonesia berskala internasional dengan dukungan modal yang besar, (8) Jaringan internasional yang beroperasi di Indonesia dari Afrika barat, Iran, Tiongkok, Pakistan, Malaysia dan Eropa, (9) Jalur masuk narkoba di Indonesia terutama melalui jalur laut dan pelabuhan tidak resmi, (10) Para narapidana kasus narkoba masih mengendalikan peredaran narkoba dari dalam penjara, penegakan hukum belum memberikan efek jera, (11) Terungkap 60 jaringan narkoba yang dikendalikan narapidana dari 22 lapas, dan (12) Peredaran narkoba di Indonesia diindikasi kuat sebagai instrumen proxy war oleh negara-negara asing.

Materi selanjutnya, dibawakan oleh Ida Putriani, S.E. dengan judul materi Jenis-Jenis Narkoba dan Dampak Buruknya. Dalam membawakan materi, ibu Ida Putriani menggunakan 3 probandus dari peserta untuk memperagakan efek buruk narkoba seperti stimulan, depresan dan halusinogen.

Pada sesi 2 materi dibawakan oleh AKP Ilham Fitriyadi, S.E., S.H., M.H. (Kasat Narkoba Polres Pelabuhan Makassar) dengan judul modus operandi dan Regulasi terkait Narkoba. Dalam paparan materi beliau lebih banyak mengulas tentang UU No. 35 Tahun 2009 tentang narkotika. ”Indonesia cukup rawan terhadap  ancaman bahaya peredaran narkoba sementara regulasi yg merupakan perangkat ketentuan, alat maupun  pelaksanaan pencegahan masih banyak kekurangan, sanksi hukum positif masih dirasakan kurang tegas, terlepas dari pola penerapannnya yg bersumber dari pemahaman aparat penegak hukum itu sendiri yg terkadang menimbulkan perbedaan pendapat yg menghasilkan muara ketidak puasan bagi pencari keadilan, menyadari hal tersebut diperlukan adanya alternatif lain dalam praktik hukum itu sendiri yang dapat memberikan solusi yang responsif dan antisipatif terhadap permasalahan narkoba saat ini” ujar beliau mengawali materinya.

Menurut beliau modus operandi penyebaran dan penyalahgunaan narkoba meliputi : (1) Sistem tempel dan pembelian terputus, (2) Sistem barter/gadai barang, (3) Sistem pengiriman paket melalui jasa pengiriman konvensional maupun Online atau modus salah kirim, (4) Sistem pembelian melalui media social, (5) Sistem peradaran menggunakan kurir/peluncur anak di bawah umur atau lanjut usia, (6) Sistem pemberian secara cuma-cuma atau gratis sampai pengguna kecanduan.

Pemateri selanjutnya yaitu H. M. Jamil Misbach, S.H., M.H. dengan judul materi peran dan  kontribusi organisasi, masyarakat dan pemerintah dalam P4GN di Indonesia khususnya Sulawesi Selatan. Beliau memberikan beberapa solusi peran yang bisa dilakukan semua pihak dalam pemberantasan narkoba meliputi : (1) Membentuk desa binaan sebagai desa percontohan yang bebas narkoba, (2) membangun kepercayaan dengan semua pihak, (3) Bermitra dengan LSM, organisasi sosial, organisasi masyarakat dalam pemberantasan narkoba, (4) Melakukan pengorganisasian secara terpadu dengan membentuk satgas, penggiat atau relawan antinarkoba dari semua kalangan, dan (5) melakukan monitoring dan evaluasi dari tiap langkah yang telah dilakukan.

Suasana pelatihan tim Edukasi ini tambah menarik karena diselingi dengan persembahan lagu-lagu oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Pharmacy Art Community (Pharco) Fakultas Farmasi Unhas. (*)

Penulis: CitizenReporter
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved