Home »

Opini

OPINI MOCH HASYMI IBRAHIM: Walikota Kita

Dari tindakan-tindakan itulah lahir cerita, kisah, story, yang membuat Patompo tidak sekadar meraup popularitas tetapi juga cinta dan benci,

OPINI MOCH HASYMI IBRAHIM: Walikota Kita
dok tribun-Timur/fb
Moch Hasymi Ibrahim (penulis, budayawan Sulsel) 

Moch Hasymi Ibrahim
Alumnus Fakultas Ekonomi Unhas/Budayawan Sulsel tinggal di Jakarta

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Mengapa Daeng Patompo dipandang sebagai legenda Kota Makassar? Jawaban atas pertanyaan itu dapat dirujuk pada apa yang disebut sebagai “story” dalam kecenderungan komunikasi publik masa kini. Patompo adalah tokoh yang, selain memproduksi “kisah”, ujaran dan tingkah sehari-harinya memimpin kota pun mengandung begitu banyak ihwal yang dapat diceritakan.

Suatu waktu, rombongan seniman-seniman Makassar menghadap beliau untuk pamit ke Jakarta dalam rangka sebuah festival. Kepadanya, Rahman Arge, ketua rombongan berujar bahwa di Jakarta mereka akan diterima oleh Ali Sadikin, Gubernur DKI. Saat itu, Ali Sadikin adalah tokoh yang sudah sangat terkenal sampai ke pelosok karena gebrakan-gebrakannya.

Dalam percakapan basa-basi, Arge menyampaikan bahwa Patompo adalah Ali Sadikinnya Makassar. Spontan Patompo menjawab, “Ali Sadikinlah Patompo-nya Jakarta, jangan dibolak balik.”

Sebagai tokoh, Patompo sangat sadar bahwa dia adalah simbol dari sebuah kota yang sedang bangkit, tumbuh dan berkembang. Diri dan namanya adalah muara seluruh aspek tentang Makassar, menjadi semacam rujukan identifikasi. Bayangkan, dalam berbagai percakapan pada masa setelahnya, kita sering mendengar ungkapan bahwa hanya satu walikota Makassar, yaitu Patompo dan yang lain hanya penggantinya.

Untuk sampai pada posisi ketokohan seperti ini tentu bukan hal yang sekali jadi dan bukan karena seseorang memegang jabatan struktural dalam pemerintahan kota. Seorang tokoh harus hadir secara kultural, menyerap dan diserap oleh dinamika kultural yang berkembang, memahami dan dipahami oleh masyarakatnya, dan melakukan hal-hal yang secara sosial merupakan jawaban atas kebutuhan warga yang dipimpinnya.

Dia adalah seorang yang visioner dan tanpa henti mengkomunikasikan visi dan mimpinya, sembari terus bekerja mewujudkannya. Boleh jadi dia tidak paham detail teknis suatu hal, tidak memiliki spesifikasi profesional tertentu, tetapi sebagai pemimpin, dia mengerti dan memiliki “gambar besar” yang digunakannya sebagai landasan gerak. Dia dapat menentukan arah, mengendalikan proses dan hadir sebagai penggerak perubahan.

Kota Makassar pada jaman Patompo adalah kota dengan luas wilayah administratif terbatas. Tetapi karena Patompo ingin menjadikan Makassar sebagai “kota dunia” – apapun definisi tentang itu, maka dia harus bernegosiasi dengan Gowa dan Maros sebagai kabupaten perbatasan untuk memperluas wilayah. Risikonya ialah bahwa nama Makassar harus diubah menjadi Ujung Pandang.

Sebuah risiko yang berpotensi meniadakan sejarah berabad Makassar dan dapat dipandang sebagai ‘dosa’ yang tak termaafkan. Patompo memilih mengambil risiko itu. Risiko yang tentu sudah diperhitungkannya dan justru di sanalah letak kualitas seorang visioner yaitu ketika dia melakukan perubahan-perubahan radikal pada masanya untuk sesuatu yang amat bermakna dan dibutuhkan pada masa depan.

Patompo mengambil langkah kontroversi, sesuatu yang agaknya melekat pada kiprah tokoh-tokoh legendaris. Kontroversi yang senantiasa menstimulasi gairah kerja untuk membuktikan kebenaran langkah yang diambil dan bukan pertentangan untuk hanya sekadar berbeda atau menjadi beda.

Halaman
12
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help