Kisah Ahmad Sahide, Pemuda Bulukumba Lulus Cumlaude di UGM, Jual Kebun dan Terkadang Utang

Ia merupakan Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Penggiat Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta

Kisah Ahmad Sahide, Pemuda Bulukumba Lulus Cumlaude di UGM, Jual Kebun dan Terkadang Utang
HANDOVER
Ahmad Sahide

Laporan Wartawan TribunSelayar.com, Nurwahidah

TRIBUNSELAYAR.COM, BENTENG - Meraih sebuah kesuksesan ternyata tidak mudah, harus melewati banyak rintangan hal itu dialami pemuda berasal dari Bulukumba, Desa Kindang, Kecamatan Kindang, Ahmad Sahide, (33) meraih doktor di UGM dan membanggakan orangtua dengan menjadi lulusan terbaik S2 di UGM Yogyakarta.

Meskipun keterbatasan ekonomi. Namun, ke dua orang tuanya sangat mengutakamakan pendidikan dan rela jual kebun untuk biaya kuliah anak-anakya.

Hal tersebut dikemukakan Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional (MIHI) dan dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ahmad Sahide melalui telepon kepada TribunSelayar.com, Kamis (8/3/2018).

"Saya kuliah S1 Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, untuk biaya kuliah, orangtua jual beberapa kebun seperti kopi dan cengkeh, kadang juga utang sama tetangga sambil nunggu panen," ujar penggerak Komunitas Belajar Menulis (KBM), Yogyakarta.

Anak ke dua dari dua bersaudara ini lahir dari keluarga petani yang bukan dari keluarga kaya dan terpandang. Ke dua orang tua pun, ayah bernama Ahmad sebagai petani dan ibu bernama Husnah sebagai ibu rumah tangga.

"Saya sangat bersyukur dapat orangtua tidak pernah mengeluh, apalagi minta berhenti kuliah terutama ibu sangat berani berkorban demi pendidikan anak-anaknya,

"Meskipun saat itu adalah masa sulit bagi orang desa yang mau mengeluarkan biaya besar untuk pendidikan anaknya, orangtua saya berani melakukan itu. Mendobrak cara berpikir masyarakat desa akan pendidikan. Motivasi orang tua, pengen melihat anaknya meraih kesuksesan,

"Alhamdulillah S2 dan S3 Kajian Timur Tengah, Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta mendapat beasiswa, dan S2 menjadi mendapat predikat cumlaude, IPK 3,80, dan kakak saya juga sudah selesai S2, sekarang lagi lanjut S3 di UIN Makasssar," tuturnya.

Menurutnya setelah menjalani banyak rintangan dia merasa Tuhan memberikan jalan untuk lebih baik. Perjuangan orangtua, keluarga, dan kerja keras itu akan membuahkan hasil dengan kemampuan bertahan hidup di Yogyakarta.

Halaman
1234
Penulis: Nurwahidah
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help