Maros Teras Dunia: Literasi 40.000 tahun dari Kawasan Karts

Penjara juga membuahkan karya yang melegenda oleh Antonio Gramsci, Prison Notebook (Quaderni del Carcere). Buku ini ditulis saat di penjara, 1962

Maros Teras Dunia: Literasi 40.000 tahun dari Kawasan Karts
dok.tribun
Sawedi Muhammad

Sawedi Muhammad
Dosen Sosiologi Fisip Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Tribun Timur edisi Senin, 26 Februari 2018, menyajikan liputan menarik tentang Luterasi dari Balik Jeruji Besi di Maros.

Literasi yang secara tradisional dimaknai sebatas mahir membaca dan menulis, ternyata memiliki makna yang luas. Ia lebih dari sekadar melek baca tulis. Ia juga berarti mampu menggunakan bahasa, membaca angka, memahami rumus matematika, mengurai gambar dan simbol-simbol kebudayaan dan sistem sosial serta mampu berkomunikasi. Kunci utama literasi adalah membaca. Ia diawali dengan memahami kata yang diucapkan dan mengerti kata-kata yang ditulis. Pada akhirnya berkulminasi pada pemahaman mendalam akan sebuah teks.

Membaca butuh pemahaman kompleks tentang suara (phonology), arti kata (semantic), pengejaan (orthography), tata bahasa (grammar) dan pola formasi kata (morphology). Semua kemampuan ini dibutuhkan agar memiliki kemampuan membaca yang mumpuni.

Literasi Tertua
"Maros Teras Dunia: Literasi 40.000 tahun lampau dari kawasan karst" adalah tema pamungkas dalam diskusi di Lapas Klas II A Maros, Jl Raya Kariango, Mandai, Maros, Sabtu (23/2/2018) sore. Dr Maxime Albert, peneliti dari Griffith University, Australia menegaskan bahwa penemuan 12 karya hand stencil dan 2 animal painting "babi-rusa" di Leang-Leang, Maros membuktikan bahwa literasi di wilayah ini telah ada paling tidak sekitar 40.000 tahun lampau.

Mereka yang menggambar karya yang sangat artistik tersebut bahkan mendahului sekitar 5000 tahun rock art yang dilakukan di Eropa. Kawasan karts Maros-Pangkep, menurut Maxime, sangat layak diperjuangkan lebih dari sekadar Unesco World Heritage, tetapi Unesco Geopark.

Geopark menurut Maxime bukan sekadar taman yang hanya terdiri dari aspek geologi semata, ia juga meliputi aspek sosio-kultural, sejarah dan kompleksitas kehidupan masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di dalamnya. Geopark ini akan berkontribusi ganda baik dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui ecotourism, juga menjadi etalase bagi program pembangunan berkelanjutan, perubahan iklim dan pemanasan global serta kegiatan ekonomi yang ramah lingkungan.

Legislator Irfan AB menegaskan bahwa terdapat kesadaran ekologis di parlemen untuk membuat Perda yang melindungi gugusan karst Maros-Pangkep ini sebagai warisan dunia. Tahun 2018 ini naskah akademisnya telah dituntaskan dan selanjutnya akan dibahas di Pansus. Menurut legislator PAN ini, gugusan karst yang tidak ada duanya di dunia ini akan lebih bermanfaat apabila dilindungi ketimbang dieksploitasi.

Meski tantangan yang dihadapi sangat berat karena kebutuhan pemerintah akan PAD yang bersumber dari industri pertambangan dan industri semen, Irfan berjanji akan all out memperjuangkan Perda yang melindungi gugusan karst untuk disahkan tahun 2018.

Berbasis Komunitas
M Irfan Machmud, Kabalar Sulsel, menegaskan bahwa temuan lukisan cap tangan di Leang-Leang dapat menggugat teori tentang homosapiens. Bisa jadi penghuni wilayah gugusan karst ini jauh lebih tua dengan kemampuan yang lebih cerdas dari homo sapiens.

Halaman
12
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help