Mitos ‘Kutukan’ Hina Matsuri dan Kian Banyaknya Jomblo Jepang

MARET adalah bulan yang dinantikan turis dan ‘dihindari’ gadis-gadis dan orangtua Jepang.

Mitos ‘Kutukan’ Hina Matsuri dan Kian Banyaknya Jomblo Jepang
THAMZIL THAHIR
Mitos ‘Kutukan’ Hina Matsuri dan Kian Banyaknya Jomblo Jepang 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR-MARET adalah bulan yang dinantikan turis dan ‘dihindari’ gadis-gadis dan orangtua Jepang.

Dinantikan, sebab inilah akhir dari musim super dingin, dan awal mekarnya bunga persik lalu disusul bunga ‘legenda’ sakura.

Pakaian serba tebal, syal, kaos tangan wool akan masuk lemari hingga dikeluarkan lagi November hingga Februari.

Disebut ‘dihindari’ gadis dan orangtua di Jepang, sebab di awal Maret hingga April, sebab para gadis akan kembali dihantui mitos dan ‘kutukan’ Hina Matsuri.

Hina Matsuri sejatinya adalah momen kegembiraan memasuki musim semi.

Otoritas wisata dan institusi bisnis Jepang, meng-kapitalisasi, Hina Matsuri dengan Doll’s Festivals.
Sedangkan intitusi negara, jenjang perwakilan kerajaan, seperti Kinkaren dan Prefektur memperingatinya dengan Hari Anak Perempuan, Girl’s Day.

Warga Jepang konvenservatif yang masih percaya kekuatan memelihara tradisi, harus memajang Hina-ningyo, 15 figur boneka di minimal 5 undakan berkarpet merah menyala.

Mitos ‘Kutukan’ Hina Matsuri dan Kian Banyaknya Jomblo Jepang
Mitos ‘Kutukan’ Hina Matsuri dan Kian Banyaknya Jomblo Jepang (Thamzil Thahir)

Hina-Ningyo mulai dipajang setidaknya 10 hari menjelang hari H Hina Matsuri, 3 Maret, di ruang tengah rumah mereka.

Saat Tribun menginap di Osaka Imperial Hotel, kawasan Ku-Kita, Tenmabashi, Osaka Prefecture, Jepang, bersama rombongan Wakil Presiden Jusuf Kalla, awal hingga akhir pekan ini, Hina Ningyo, jadi pemandangan mencolok di lobi utama.

Banyak tetamu hotel berfose atauy selfie di depan altar ini.

Halaman
1234
Penulis: Thamzil Thahir
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help