PSM Makassar

Lagi, Robert Lontarkan Kritik di IG, Giliran Stadion Mattoanging Disindir

Hingga tahun 2018 ini belum ada usaha untuk memperbaiki secara signifikan.

Lagi, Robert Lontarkan Kritik di IG, Giliran Stadion Mattoanging Disindir
MUH ABDIWAN
Pelatih PSM Makassar, Robert Rene Alberts 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pelatih PSM Makassar, Robert Rene Alberts, tampaknya memiliki kebiasaan baru akhir-akhir ini. Melalui akun instagramnya, pelatih asal Belanda itu membuat video testimoni terkait persepakbolaan Indonesia.

Beberapa waktu lalu Robert mempersoalkan pemunduran jadwal Kickoff Liga 1 Indonesia. Sementara itu pada unggahan, Selasa (13/2/2018), ia kembali mengunggah video namun kali ini giliran kondisi Stadion Andi Mattalata Mattoangin yang kena sindirian.

Robert menyayangkan saat ini stadion yang merupakan Homebase PSM itu belum memenuhi standar verifikasi PSSI untuk digunakan saat Liga bergulir. Sehingga besar kemungkinan PSM akan menjadi tim musafir.

"Bermain kandang jauh dari kandang sebenarnya. Sebuah hal baik bahwa pihak yang berwenang di persepakbolaan mengecek stadion-stadion dan memberi persetujuan. Faktor-faktor penting seperti keamanan untuk pemain dan suporter harus jadi prioritas. Stadion makassar belum mendapatkan persetujuan itu, itu sudah benar," tutur Robert.

Ia menerangkan bahwa sejak menginjakan kaki sebagai pelatih di Makassar pada tahun 2010 lalu, kondisi buruk Mattoangin sudah nampak. Namun hingga tahun 2018 ini belum ada usaha untuk memperbaiki secara signifikan.

"Ketika saya melatih PSM di tahun 2010, saya sudah tekankan bahwa kondisi dari stadion kita ini buruk. Dan 8 tahun setelah itu kita harus dihadapkan dengan keadaan ini lagi. Kenapa orang-orang yang berkuasa di Makassar tidak melakukan sesuatu untuk mengupgrade stadion Mattalata," ungkapnya.

Ia pun berharap pihak Pemerintah atau orang-orang bwrkuasa lainnya memberikan perhatian lebih terhadap sepakbola Makassar.

"Beri suporter dan pemain sebuah stadion kebanggaan dengan kondisi terbaik. Dan sekarang kita harus membayarnya dengan harga cukup mahal karena kurangnya minat dari orang-orang yang ada di Atas (Berkuasa)," tutupnya. (*)

Penulis: Alfian
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help