Pertumbuhan Ekonomi Sulsel Terbaik Kedua Nasional, Ini Kata Dosen Ekobis Unhas

BPS Sulsel mencatat ekonomi Sulawesi Selatan pada tahun 2017 tumbuh 7,23 persen dan berada di peringkat 2 nasional

Pertumbuhan Ekonomi Sulsel Terbaik Kedua Nasional, Ini Kata Dosen Ekobis Unhas
net
Anas Makkatutu.

Laporan Wartawan Tribun Timur, Fahrizal Syam

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan mencatat ekonomi Sulawesi Selatan pada tahun 2017 tumbuh 7,23 persen dan berada di peringkat 2 nasional di bawah provinsi Maluku Utara.

Dipaparkan Kabid Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Sulsel, Didik Nursetyohadi, pertanian masih menjadi tumpuan ekonomi Sulawesi Selatan.

"Selama 2017, lapangan usaha pertanian kehutanan, perikanan dapat menciptakan nilai tambah Rp 95,9 triliun. Berkontribusi 22,89 persen dan tumbuh 5,34 persen dibandingkan tahun sebelumnya," kata Didik.
Menanggapi pertumbuhan ekonomi Sulsel tersebut, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas, Dr Anas Makatutu SE mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Sulsel seharusnya dibarengi dengan angka kesenjangan dan kemiskinan yang rendah.

"Kalau hanya melihat pertumbuhan ekonomi, ini luar biasa. Pertanyaanya, seharusnya kalau pertumbuhan ekonomi tinggi, angka kemiskinan harus turun, kesenjangan atau gini ratio juga turun, supaya pertumbuhan ekonomi benar-benar dinikmati masyarakat," kata Anas, Senin (5/2/2018).

Ia mengatakan, kesenjangan atau gini ratio di Sulsel menjadi masalah yang harus diselesaikan, meskipun pertumbuhan ekonomi terus membaik

"Di Sulsel ada sesikit kendala di situ. Menurut saya, kalau mau lebih sempurna lagi, idelanya pertumbuhan ekonomi tinggi, angka gini ratio dan kesenjangan semakin kecil, dan penduduk miskin rendah. Jadi masih ada sedikit masalah," ungkapnya.

Tak hanya soal kesenjangan, ia juga menyoroti pemerataan di seluruh kabupaten di Sulsel yang dianggap belum merata.

"Sulsel itu ada 24 kabupaten kota, pertanyaannya juga apakah pertumbuhan ekonomi Sulsel yang tinggi ini berasal dari kontribusi semua kabupaten ini. Ada kabupaten yang sumbangsihnya sangat besar, misalnya Makassar yang sampai 9 persen, tapi ada juga yang rendah. Berarti pemerataannya juga masih kurang, dan ini yang harus jadi perhatian," katanya.

"Jadi jangan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Sulsel ini bukan Makassar saja, tapi 24 kabupaten kota. Kesenjangan by region dan kesenjangan individu masyarakat harus ditangani," pesannya.

Ia juga mengatakan, pergantian gubernur pasti akan mempengaruhi nantinya, jadi menurut Anas, Sulsel membutuhkan pemimpin yang konsisten dan kontinuitas.

"Siapa pun yang terpilih, jangan lagi selalu mau bikin program baru. Kalau memang program lama bagus, kenapa tidak dilanjutkan saja daripada mulai dari nol, masalahnya jika program lama yang dilaksanakan, gubernur lama yang akan naik namanya," ucapnya.

"Jadi sekarang, harus diperhatikan adalah apa penyebab kesenjangan di Sulsel ini. Rupanya, persoalannya adalah karena investasi di Sulsel sebagian besar masih yang padat modal, bukan padat karya. Ini membuat kesempatan kerja masyarakat kurang," sambung dia.

Menurut dia, mestinya idi Sulsel harus lebih banyak mendorong investasi yang padat karya supaya bisa menyerap banyak tenaga kerja, income pendapatan meningkat, dan akhirnya konsumsi akan meningkat, dan kemisinan berkurang karena pendapatan bertambah. (*)

Penulis: Fahrizal Syam
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help