Diusulkan Jadi Guru Besar, SYL: Ini Perhargaan yang Patut Dijaga dan Dipertanggungjawabkan

Syahrul mengatakan jika nantinya mendapatkan gelar profesor merupakan penghargaan bagi dirinya.

Diusulkan Jadi Guru Besar, SYL: Ini Perhargaan yang Patut Dijaga dan Dipertanggungjawabkan
Muh Abdiwan/Tribun Timur
Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo mengamati sejumlah koleksi buku di Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Jl. Sultan Alauddin Makassar, Selasa (16/1). Selain melihat koleksi buku, SYL juga menyempatkan diri menyapa sejumlah mahasiswa yang berkunjung ke prepustakaan tersebut. tribun timur/muhammad abdiwan 

Laporan wartawan Tribun-Timur, Saldy

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo (SYL) menanggapi kabar dari Universitas Hasanuddin yang akan mempromosikan dirinya sebagai guru besar.

Syahrul mengatakan jika nantinya mendapatkan gelar profesor merupakan penghargaan bagi dirinya.

"Menjadi profesor ini penghargaan untuk saya, tetapi bagi saya ini lebih banyak bagaimana mempertanggung jawabkan kepakaran yang ada," sebutnya saat ditemui di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel di Jalan Sungai Tangka.

Ia mengatakan selama ini lebih banyak menjalankan praktek pemerintahan dan hukum tata negara.

"Oleh karena itu, saya tidak ingin hanya dikukuhkan tetapi ingin membuktikan, kalau itu dianggap layak terima kasih. Tentu tidak semua orang setuju, tetapi menurut saya ini harus dipertanggung jawabkan dunia akhirat," tutur gubernur yang telah menghasilkan 16 judul buku ini.

Seperti diketahui sebelumnya, Unhasmengusulkan SYL untuk menjadi Guru Besar Tidak Tetap.

Usulan tersebut akan diajukan kepada Menteri Ristekdikti untuk disetujui. Keputusan akhir tetap ada di Menteri Ristekdikti.

Jika memenuhi syarat, SYL bakal menerima gelar guru besar tidak tetap.

Berdasarkan pasal 72 ayat 5 UU Nomor 12 Tahun 2012, Menteri dapat mengangkat seseorang dengan kompetensi luar biasa pada jenjang jabatan akademik Profesor atas usul Perguruan Tinggi.

Serta Pasal Permendikbud Nomor 40 Tahun 2012 menyebutkan bahwa Menteri dapat menetapkan seseorang yang memiliki keahlian dengan prestasi luar biasa untuk diangkat sebagai Profesor/Guru Besar Tidak Tetap pada perguruan tinggi berdasarkan pertimbangan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi.

Beberapa tokoh yang telah diberikan gelar guru besar tidak tetap ini seperti Presiden RI 2004-2014, Susilo Bambang Yudoyono dari Universitas Pertahanan Nasional dan Otto Hasibuan dari Universitas Jayabaya.

Penulis: Saldy
Editor: Ardy Muchlis
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help