OPINI: Desepsi (Kebohongan) Politik Petahana

Berdasarkan teori desepsi, setiap orang berbohong pasti memiliki sasaran tertentu untuk memelihara tujuan dan menyelamatkan muka dan harga diri

OPINI: Desepsi (Kebohongan) Politik Petahana
TRIBUN TIMUR/ANITA WARDANA
Dr Hasrullah MA 

Oleh
Dr Hasrullah MA
Penulis Buku Oipum Politik dan Dramaturgi/Dosen Fisipol Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kontestasi politik dalam pilkada pasca pendaftaran dan penetapan calon walikota Makassar 2018-2023, dipastikan akan memanas seiring persaingan yang makin ketat dalam memperebut suara politik. Terlebih lagi jika aktor yang bertarung adalah incumbent (baca : Danny Pomanto) yang cendrung mempertahankan kekuasaan yang telah diraih selama satu periode.

Dalam perspektif teori-teori aktor, incumbent tentu mempunyai prestasi yang luar dan meraih pencitraan dan penghargaan sehingga merasa sangat yakin dan percaya diri untuk kembali bertarung untuk menduduki kursi empuk walikota. Disamping kelebihan pencitraan hasil kerja keras yang dilakukan, tentu sudah tertanam dibenak masyarakat, petahana dianggap berhasil dalam menapak kepemimpinannya.

Janji Politik
Namun dalam kesempatan ini, perlu juga diungkapkan beberapa program kerja dan janji politik yang tidak terlaksana, hingga perlu ditagih kembali agar janji itu bukan hanya pemenuhan narasi politik ketika melontarkan gagasan yang telah disampaikan kepada publik.

Agar narasi politik petahana yang telah menjadi janji politik yang terlontar diawal kepemimpinannya dapat dipertanggungjawabkan, maka narasi janji, perlu didasari dengan data otentik dan sumber kutipan yang nyata (baca teori; agenda media dan framing).

Untuk membedakan janji narasi incumbent perlu juga dipetakan berdasarkan grand teori komunikasi yang dikenal dengan “teori desepsi” yang dikemukan Buller & Burgon (1996) bahwa setiap orang berbohong pasti memiliki tujuan tertentu, sasaran tertentu untuk memelihara tujuan dan menyelamatkan muka dan harga diri.

Berdasarkan teori desepsi ini, intinya ada pada manipulasi pesan dan pesannya mengandung kebohongan. Seperti yang dikemukakan penemu teori desepsi, untuk menyelamatkan komunikator, ada tiga strategi atau cara yang dilakukan dalam upaya mengirim pesan untuk berbohong kepada penerima pesan, yaitu; (a) falsification (pemalsuan), (b) concealment (menyembunyikan kebenaran), (c) equivocation (mengaburkan).

Ketiga strategi tersebut, dengan bantuan agenda media dan framing, dapat kita lihat narasi Danny Pomanto yang telah melakukan desepsi, diantaranya; (Pertama) pemberitaan Fajar, edisi 17 September 2014 dengan judul berita “Janji Palsu”;(1) Soal PKL, “Pokok habis lebaran, kita sapu” (2) Automatic Traffic Light Control System, akan dijalankan, (3) Sampah tukar beras, (4) Pasar tumpah, “ini perlu dibenahi. Habis lebaran, kita tuntaskan”.

(Kedua), Di bagian lain, tulisan opini Abdul Karim edisi Tribun Timur, 22 Mei 2014; kita masih ingat usai dilantik DIA (Danny-Ical) mendapat “kado” khusus dari ratusan PKL korban kebakaran Pasar Sentral Makassar. Situasi korban pasar sentral menimbulkan ketidakpastian, dengan harga los terasa mahal.

(Ketiga), opini Anwar Abugaza edisi Fajar, 10 Mei 2014 menyoal Makassar Smart City? Gebrakan smart city yang diproklamirkan diawal pidato pelantikan Danny Pomanto menuai perhatian dan kritik dari penulis (Baca: Anwar Abugaza) yaitu; (1). programsmart city cenderung terkesan pencitraan, (2). Kesiapan SDM dan pembiayaan, (3). Komitmen tidak hanya walikota (one man show), dan (4). Masyarakat diharapkan terlibat secara aktif.

Halaman
123
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help