TribunTimur/

Keputusan Mendag Impor Beras Abaikan Harapan Petani

Kebijakan itu hanya menguntungkan pedagang di kota dan mengabaikan harapan petani yang dua bulan lagi memanen sawahnya.

Keputusan Mendag Impor Beras Abaikan Harapan Petani
TRIBUN TIMUR/ANSAR
Petani di Dusun Bonti- Bonti, Desa Mattoanging, Kecamatan Bantimurung, Maros mengeluh lantaran harga gabah yang turun drastis. 

TRIBUN-TIMUR.COM, JAKARTA - Pengamat Politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio menyayangkan terbitnya Keputusan Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita yang mendadak membuka keran impor beras sebesar 500.000 ton.

Dia menyebutkan kebijakan itu hanya menguntungkan pedagang di kota dan mengabaikan harapan petani yang dua bulan lagi memanen sawahnya.

Menurutnya alasan impor beras yang disampaikan Mendag Enggarsito tidak cukup kuat karena saat ini petani sedang merayakan panen dan data Kementerian Pertanian menyebutkan cukup.

“Kebijakan impor yang diambil Mendag sangat mencederai semua upaya yang telah dikerjakan selama ini serta membuat para petani pasti akan kecewa”, ucapnya, Sabtu (13/1/2018)

Hensat menambahkan, Kebijakan impor yang mendadak dan tanpa koordinasi dengan kementerian terkait bisa saja disinyalir bahwa di sana muatan politiknya lebih dominan dibanding memang terdapat kekuarangan pasokan pangan.

“Apalagi dari informasi dari berbagai media idealnya untuk impor itu butuh 1,5 bulan tiba. Kok bisa tiba demikian cepat dalam 2 minggu ini? Sementara panen raya tersisa 15 hari lagi atau di awal Februari. Mendag perlu koordinasi dengan kementerian lain untuk ini. Jangan sampai kebijakan ini justru mempersulit posisi Jokowi di mata petani”, tandasnya.

Dari informasi yang diperoleh, rencana impor beras ini sudah digadang-gadang sejak 2 bulan lalu. Ini terbukti dari adanya proses tawar-menawar dengan negara Vietnam dan Thailand.

“Bila informasi itu benar, wah berarti sudah ada proses seperti itu, artinya memang sudah direkayasa untuk masuknya impor. Padahal stok beras dinilai sangat cukup untuk komsumsi dalam negeri”, ujar Hensat.

Lagi pula, kata Hensat, ada informasi yang mengatakan bahwa saat ini Bulog baru menyerap sekitar 85 persen gabah petani yang seharusnya sudah mencapai 100 persen.

“Kan ada informasi Stok Bulog saat ini sebesar 950 ribu ton. Nah kata para ahli bila 100 ton saja yang dikeluarkan ke pasar, itu sudah bisa meredam kenaikan harga. Kok impor? Dengan adanya impor ini publik jadi bingung, info yang mana yang tepat, ada apa ini? Wah Mendag mungkin belum mendengar ada isu reshuffle dalam waktu dekat ya”, pungkasnya. (*)

Penulis: Fahrizal Syam
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help