Sepanjang 2017, Kasus Suap dan Gratifikasi Mendominasi di Sidang Majelis Kehormatan Hakim

Praktik suap dan isu jual beli perkara di pengadilan menunjukkan persoalan itu tergolong sebagai masalah yang serius

Sepanjang 2017, Kasus Suap dan Gratifikasi Mendominasi di Sidang Majelis Kehormatan Hakim
ist
ilustrasi

Laporan wartawan Tribun Timur Hasan Basri

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -- Praktik suap dan isu jual beli perkara di pengadilan menunjukkan persoalan itu tergolong sebagai masalah yang serius.

Sepanjang tahun 2017, marak operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap aparatur pengadilan, termasuk hakim.

Demikian disampaikan Juru Bicara Komisi Yudisial RI, Farid Wajdi dalam rilisnya, Kamis (04/01/2018).

"Tentu saja menjadi catatan kelam bagi dunia peradilan mengingat hakim seharusnya dapat menjaga kewibawaan dan keluhuran martabat," ujar Farid.

Sejak sidang Majelis Kehormatan Hakim (MKH) digelar oleh Komisi Yudisial (KY) dan Mahkamah Agung (MA) pertama kali di tahun 2009, kata Farid kasus suap dan gratifikasi cukup mendominasi hingga sekarang.

Dari 49 sidang MKH yang telah dilaksanakan, ada 22 laporan karena praktik suap dan gratifikasi, yaitu sekitar 44,9%.

"Praktik suap dan isu jual beli perkara ini juga selalu menghiasi sidang MKH pada setiap tahunnya," tuturnya.

Farid mengaku hal itu tentu keprihatinan dan sudah sepatutnya menjadi pembelajaran bagi semua pihak. KY mengimbau para hakim untuk senantiasa memegang teguh Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim (KEPPH).

Sebagai mitra kerja, KY juga mengapresiasi langkah pembinaan dan pembenahan yang telah dilakukan MA. Namun, KY berharap agar MA lebih tegas terhadap “oknum” yang telah mencederai kemuliaan lembaga peradilan.

KY mengajak untuk sama-sama menjauhi perilaku korupsi. Sebab, dengan menjadikan pengadilan bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), maka sendirinya dapat mengembalikan kepercayaan publik sehingga peradilan bersih, bermartabat dan agung dapat terwujud.

Penulis: Hasan Basri
Editor: Ardy Muchlis
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help