Bahas Pilgub Sulsel, Forum Dosen Harap Akademisi Tak Jadi Tim Sukses

Terkait dengan politik kata akademisi UMI ini, itu ia akui serasa ada panggilan hati untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang pilgub Sulsel 2018.

Bahas Pilgub Sulsel, Forum Dosen Harap Akademisi Tak Jadi Tim Sukses
Sejumlah akademisi yang tergabung dalam Forum Dosen Makassar melaksanakan dialog awal tahun 2018 di Gedung Tribun-Timur Jl Cendrawasih, Makasssar, Rabu (3/1). Para akademisi ini membahas tentang tahun 2018 yang dianggap sebagai tahun politik. Salah satu perbincangan hangat di forum ini adanya manuver politik yang ikut menggiring politik di kalangan guru besar (Profesor). TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR 

Qasim Mathar pun demikian. Dalam Pilgub nanti, ia menginginkan keterlibatan akademisi.

Keterlibatan yang ia maksud itu, yakni membantu kandidat untuk membangun misi dan visi dal program kerja.

"Boleh terlibat dalam penyusunan misi, tapi jadi jadi tim sukses. Pergi kampanye yang bukan marwah seorang akademisi," katanya.

Sementara itu, Prof Amran Razak mengatakan keterlibatan akademisi turun untuk merubah kehidupan masyarakat.

Menurutnya semua warga negara memiliki kepentingan politik. Begitupun dengan akademisi.

"Ya saya pun begitu, saya punya sahabat. Pastinya saya yakin kandidat semuanya punya misi yang terbaik. Olehnya akademisi diharapkan jangan saling mencurigai," kata Amran sembari tersenyum.

Ia menyebutkan saat ini ada guru besar sebagai calon, namun tidak menutup dia mendapatkan dukungan dari rejan sesamanya akademisi.

Selain itu, Prof Arsunan Arsin mengatakan, dalam Pilkada ini mungkin saja ada kepentingan politik kita.

"Politik sulit dilawan, mana yang lebih jekkong dia pasti bisa menang," ujarnya disambut senyum.

Ia pun menyebutkan bahwa Pilkada ini ada skenario pusat. Olehnya itu, ada kemungkinan ini akan dipaketkan dengan pemilihan presiden.

Sedangkan Ishak Ngeljeratan singkat mengatakan bahwa Pilgub ini layaknya sistem adu ayam.

Ini juga di ungkapkan oleh Muhammad Yahya. "Siapa yang berduit dan berpengaruh akan menang," katanya.

Sementara itu, Jamal bijaang mengatakan demokrasi ini tidak mensejahterahkan baik secara nasional dan lokal.

"Kita berharap bagaimana kedepan ini calo mengarah kesejahteraan. Macam macam anggaran baru tidak jelas ji," katanya

Sedangkan Amir Muhiddin mengusulkan bahwa dalam Pilkada nanti kiranya tidak ada calon memamerkan titel pendidikannya.

"Jangan mi pakai titel. Ini kode etik," katanya.

Penulis: Saldy
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help