TribunTimur/

Tribun Millennial

Millennial - Harapan Putri Dhiya untuk Pendidikan Indonesia di Tahun 2018

Dhyia ingin pendidikan tak hanya difokuskan di kota-kota besar saja tapi juga dapat mencapai daerah yang belum terjamah sebelumnya.

Millennial - Harapan Putri Dhiya untuk Pendidikan Indonesia di Tahun 2018
HANDOVER
Siswi SMAN 3 (Smaga) Makassar, Putri Dhiya Lestari 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Sukmawati Ibrahim

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR--Siapa pun pasti ingin pendidikan di Indonesia semakin maju ke depannya.

Sekolah-sekolah ataupun Perguruan Tinggi (PT) bukan hanya menyiapakan orang-orang yang cerdas saja, melainkan berkarakter serta berbudi pekerti mulia.

Hal ini yang diharapkan siswi SMAN 3 (Smaga) Makassar, Putri Dhiya Lestari.

"Saya sendiri berharap untuk setahun ke depan pendidikan di Indonesia bisa lebih merata lagi, mulai dari materi yang diberikan kepada pelajar sampai fasilitas yang memadai serta mendukung lingkungan pembelajaran, tidak lupa pula kualitas tenaga pengajar," katanya pada tribun-timur.com, Senin (1/1/2018).

Dhyia ingin pendidikan tak hanya difokuskan di kota-kota besar saja tapi juga dapat mencapai daerah yang belum terjamah sebelumnya.

"Di daerah terpencil atau daerah perbatasan yang justru kurang diperhatikan. Saya juga berharap budaya mencontek saat Ujian Nasional (UN) yang kian melekat dari tahun ke tahun bisa dihilangkan, karena menurut saya sendiri integritas bangsa dimulai dari hal-hal kecil seperti ini," jawabnya.

Selain itu, anak dari pasangan Muh Akbar dan Susiani ingin pendidikan di Indonesia bisa lebih maju, tanpa mengesampingkan hak-hak guru terutama untuk kesejahteraan mereka yang berada di daerah terpencil.

"Saya juga berharap perubahan standar kecerdasan, atau bahkan kelulusan siswa. Pendidikan merupakan jembatan menuju profesionalitas, jadi standar setiap siswa harus berbeda sesuai dengan profesi yang mereka cita-citakan itu sendiri. Karena kita hidup di zaman modern, pekerjaan tidak semata berada dalam suatu sistem dan mengikuti aturan atasan," jelasnya.

Menurutnya, kini berkarya pun bisa dihitung sebagai pekerjaan. Tidak hanya dokter dan pengacara saja.

"Cita-cita siswa SMA zaman ini bisa jadi videografer, personal stylist, social media manager, atau penyiar radio dan bahkan penyair. Sekolah 9 jam sehari tidak akan terasa berat, apabila kurikulum pendidikan disesuaikan dengan cita-cita tiap siswa. Yah semoga ini bisa jadi perhatian pemerintah," lanjutnya. (*)

Penulis: Sukmawati Ibrahim
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help