TribunTimur/
Home »

Opini

Apa Jadinya Jika Profesor Tampil di Panggung Pilgub? Ini Pendapat Dosen Unhas

Bila kelas profesor dilibatkan dan dipertaruhkan di pilkada, terus kelas sosial mana lagi yang bisa diharapkan berjarak dengan perhelatan politik

Apa Jadinya Jika Profesor Tampil di Panggung Pilgub? Ini Pendapat Dosen Unhas
dok.tribun
Supratman, Dosen Bahasan Parsi Fakultas Ilmu Budaya Unhas 

Oleh: Supratman
Dosen pada Departemen Sastra Asia Barat Fakultas Ilmu Budaya Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Wacana profesor berkibar di panggung Pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan (Pilgub Sulsel) periode 2019-2023. Pada mulanya tim sukses kandidat Nurdin Abdullah memopulerkan tagline ‘Profesor Andalan’. Juga ada akun ‘The Profesor’ di Facebook. Tak selang berapa lama pasangan kandidat Nurdin Halid-Abdul Aziz Qhahhar menyematkan pula barisan pasukannya dengan slogan ‘Andalanna Para Profesor’.

Memahami bahwa profesor itu sendiri adalah jabatan tertinggi bagi pengajar di universitas setelah jabatan lektor kepala, lektor dan asisten ahli maka wajar rasanya bila fenomena tersebut didiskusikan. Selain bahwa jabatan profesor begitu agung juga untuk mencapainya butuh proses panjang.

Dalam proses tersebut terdapat dinamika yang meniscayakan konsistensi, idealisme dan juga finansial. Artinya bahwa orang yang mencapai jenjang profesor adalah manusia dengan kualitas paripurna. Terutama matang secara intelektual, emosional dan finansial. Adapun uji materi atas kematangan tersebut dinilai berdasarkan tridharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.

Penjelasan dari aspek pendidikan maksudnya adalah seorang dosen (profesor) selain telah menempuh dan menyelesaikan jenjang pendidikan tertinggi yaitu PhD (Doctor of Philosophy) juga harus ada jejak pengajaran yang secara konvensional hadir di dalam kelas untuk mengajar langsung mahasiswa.

Aspek penelitian, seorang profesor dituntut untuk melakukan dan memiliki penelitian yang standar yang kemudian harus terbit di jurnal nasional ataupun internasional. Aspek pengabdian, seorang profesor harus punya rekaman pengabdian yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat baik terkait dengan latar belakang keilmuan maupun karena ketokohan dirinya sebagai seorang profesor.

Atas semua itu maka seorang profesor secara sosiologis kemasyarakatan otomatis dipandang sebagai tokoh atau panutan pada sebuah wilayah atau komunitas. Profesor memiliki strata sosial yang unik di masyarakat. Keunikan itu adalah profesor bisa menjadi jembatan atau penghubung antara berbagai elemen dan status sosial di masyarakat.

Profesor dapat menyampaikan kebutuhan masyarakat kepada penguasa atau pejabat pada saat yang sama keinginan atau kebijakan penguasa dapat disampaikan kepada masyarakat. Oleh karena itu, seorang profesor adalah orang yang dipandang tidak saja punya punya otoritas mutlak terhadap suatu bidang keilmuan tertentu tapi pada saat yang sama ia adalah orang yang memiliki kemapanan dan kemampuan yang paripurna untuk memahami sebuah fakta sekaligus makna dibalik fakta.

Profesor memiliki tidak saja ketajaman pikir tetapi juga zikir (nurani). Dengan begitu seorang profesor sedianya dapat memadukan sebuah pandangan yang visioner dengan program manejerial keseharian sekaligus kekinian. Dengan posisi tersebut maka seorang profesor dalam wacana budaya Sulsel sejajar dengan ‘panrita’. Panrita bagi masyarakat Sulsel sederajat dengan kelas bangsawan.

Profesor dari segi etimologi berasal dari bahasa Latin yang berarti seseorang yang dikenal sebagai pakar pada bidang tertentu. Ada pula yang mengaitkan bahwa profesor itu adalah seakar dengan kata ‘prophetic’ yang berarti kenabian.
Jadi profesor baik tilikan kebahasaan maupun kebudayaan tampaknya lebih fokus pada masalah yang bersifat keilmuan (intelektual), spiritual maupun kepemimpinan yang bersifat sosial.

Halaman
12
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help