TribunTimur/
Home »

Opini

Mengapa Bung Karno Ingin Satukan Islam, Nasionalisme, dan Sosialisme? Ini Jawabannya!

politik masih jadi panglima, korupsi masih menjadi sajian pemberitaan siang malam bagi para pembayar pajak.

Mengapa Bung Karno Ingin Satukan Islam, Nasionalisme, dan Sosialisme? Ini Jawabannya!
dok.tribun
Opini Andi Muawiyah Ramly di Tribun Cetak edisi Senin, 4 Desember 2017, halaman 29 

Oleh: Andi Muawiyah Ramly
Salah satu pendiri PKB

TRIBUN-TIMUR.COM - Sebagai bangsa yang merdeka, nasionalisme Indonesia bermula dari sejarah entitas sosial baru yang lahir dari pergolakan melawan imperialisme dan kolonialisme bangsa-bangsa asing pada awal abad ke-20 M. meskipun potensi perlawanan terhadap imperialisme dan kolonalisme tersebut sebenarnya telah muncul jauh sebelum itu yakni sejak abad ke 16-19 oleh para tokoh lokal dan raja-raja di Nusantara.

Namun puncaknya sejarah nasionalisme Indonesia, berada dalam ide-ide revolusioner Bung Karno yang tertuang dalam buku legendarisnya “Di bawah Bendera Revolusi”.

Gagasan nasionalisme Bung Karno yang revolusioner itu diusung dengan tujuan untuk membangun kesadaran sosial dan politik masyarakat akan pentingnya kemerdekaan suatu bangsa yang dapat terbebas dari segala bentuk penjajahan dan penindasan.

Melalui analisisnya yang tajam dan menampar mengenai segi-segi negatif kolonialisme dan imperialisme, Bung Karno berhasil membangkitkan kesadaran nasionalisme di kalangan masyarakat Nusantara yang telah lama hidup dalam keterpurukan. Kesadaran nasionalisme ini tidak lahir serta merta, melainkan bersamaan dengan gagasan ideologis yang masuk dalam pergerakan masyarakat di tengah perubahan dunia pada awal abad ke-20 M.

Sebagaimana Islam yang menjadi alat “ideologi” yang direpresentasikan dengan lahirnya gerakan-gerakan sosial keagamaan di masyarakat, seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persis, Perti dan lain-lain seiring dengan masuknya gelombang kebangkitan Islam dari Timur Tengah ke Nusantara.

Gerakan-gerakan keagamaan tersebut hendak menumbuhkan Islam sebagai kekuatan nasional yang dapat dipercaya sebagai alat untuk melawan kolonialisme dan imperialisme dunia. Nasionalisme yang lahir dari Islam ini juga ditangkap ide dan gerakannya oleh Bung Karno sebagai ideologi (isme) baru yang dapat melawan kolonialisme, dengan menyebutnya “Islamisme”.

Islamisme adalah istilah yang dipakai oleh Bung Karno sendiri untuk menamai gerakan keagamaan yang melawan kolonialisme pada awal pertumbuhan pergerakan kebangsaan Indonesia. Namun gagasan-gagasan “ideologi” kaum muslimin yang bersifat khusus ini tidak berdiri sendiri dan terpisah, seperti yang dipahami selama ini.

Di sisi kelompok lain lahirlah gagasan dan ideologi sosialisme internasional sebagai alat untuk mengobarkan masyarakat melawan kolonialisme dan imperialisme dunia, karena memang watak kolonialisme dan imperialisme bertentangan dengan semangat kemanusiaan dan nilai-nilai sosialisme yang diperjuangkan oleh para tokohnya pada waktu itu.

Juru bicara yang paling fasih untuk tesis tersebut ada nama Tan Malaka dan Sutan Syahrir. Di sisi lain, Bung Karno memberi gasan baru keinginan mengawinkan ketiga ideologi resistensi terhadap kolonialisme yaitu nasionalisme, Islam dan sosialisme menjadi satu ideologi kebangsaan yang bersatu untuk mencapai kemerdekaan yang kemudian dikenal dengan Pancasila.

Halaman
12
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help