TribunTimur/
Home »

Opini

Indonesia sebagai Pusat Studi Islam Dunia, Mungkinkah?

pengkajian studi Islam di Indonesia juga membuka peluang bagi tantangan yang selalu dinamis, aktual dengan mengakomodasi problematika kebangsaan ...

Indonesia sebagai Pusat Studi Islam Dunia, Mungkinkah?
dok.tribun
Opini Prof Dr Irfan Idris di Tribun Timur cetak edisi Rabu, 6 Desember 2017 
Direktur BNPT Prof Dr Irfan Idris

Prof Dr Irfan Idris MA
Guru Besar Politi Islam UIN Alauddin/Direktur Deradikalisasi Badan Penanggulangan Terorisme (BNPT)

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Studi Islam yang inklusif, moderat, toleran, universal, objektif, akulturatif, kritis akomodatif tumbuh subur, berkembang pesat di Indonesia dan maju seiring perkembangan teknologi informasi dan era globalisasi dalam zaman milenial. Hal tersebut perlu dipertahankan dan bahkan dikembangkan terutama dalam dunia internasional guna menekan perkembangan studi Islam yang parsial, ahistoris, temporal, eksklusif dan tekstual yang berkembang dengan cepat melalui media sosial.

Islam sebagai agama juga sebagai tatanan kehidupan yang sarat dengan nilai-nilai kasih sayang, konsepsi hidup penuh damai, harmoni, plural dan moderat bagi seluruh alam, bukan semata diturunkan kepada manusia saja terlebih juga bukan kepada satu umat, satu bangsa satu kafilah atau satu harakah (pergerakan) tetapi ditujukan kepada seluruh ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dalam mewujudkan harapan dan mimpi besar tersebut - bukan ilusi seperti mendirikan negara Islam, Prof. DR. H. Komaruddin Amin MA, Dirjen pendidikan Islam kementerian agama Republik Indonesia mewacanakan penyiapan bea siswa bagi mahasiswa wargan negara asing (WNA) dari banyak negara dan bangsa untuk memperdalam studi Islam di Indonesia yang tersebar pada Uinversitas Islam Negeri (UIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN).

Wacana tersebut bukan gagasan yang tidak dapat diwujudkan dan perlu mendapat banyak respon positif dari banyak kalangan tidak terbatas dari kalangan akademisi, tentu wacana tersebut juga memunculkan kontra di dalam masyarakat, banyak alasan dan argumentasi yang diutarakan oleh masyarakat yang merespon positif, namun tentu tidak sedikit argumen dari masyarakat yang kurang/belum dan atau tidak sependapat dengan wacana menyiapkan beasiswa bagi warga negara asing menempuh pendidikan dan atau studi Islam di institusi dan lembaga pendidikan Islam negeri di Indonesia seperti UIN, IAIN dan STAIN.

Model pengkajian dan pengembangan Islam di Indonesia menggunakan pendekatan yang multi interdisipliner, studi yang mengedepankan berbagai macam disiplin keilmuan secara kontekstual yang esensial bukan tekstual sensasional. Pada satu sisi, pengkajian dan pengembangan studi keIslaman tetap mengacu pada sumber dan metode yang telah diwariskan oleh para alim ulama, para Iamam Mazhab, para cerdik cendekia, para filosof dan ahli hikmah yang merangkum pemikirannya dalam banyak kitab, buku dan ensiklopedia hingga karya-karya mereka tetap menjadi rujukan banyak lembaga pendidikan baik nasional maupun internasional.

Pada sisi lain, pengkajian studi Islam di Indonesia juga membuka peluang bagi tantangan yang selalu dinamis, aktual dengan mengakomodasi problematika kebangsaan, keumatan dan kemanusiaan yang pada masa lampau belum semaju dan secanggih kemajuan teknologi informasi dan dialektika kehidupan masyarakat seperti yang kita jumpai dan alami dalam era milenial sekarang.

Studi keislaman yang tidak fleksibel, tidak akomodatif dan tidak akulturatif mudah melahirkan generasi yang tidak memiliki pemahaman yang komprehensif, holistik dan pluralistik. Muncullah sosok masyarakat yang gagal faham yang memiliki semangat yang tidak berimbang dengan pemahaman atau semangat yang melangit sementara pengetahuan dan pemahaman yang belum membumi, aksi anarkisme, terorisme dan ekstremisme yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan dianggap sebagai perbuatan yang suci dianggap satu-satunya cara mencegah kemungkaran dan dianggapnya sebagai mati syahid.

Negara Indonesia dapat menyiapkan substansi studi Islam yang inklusif dan sekaligus menjadi pusat studi Islam secara internasional agar tidak ada lagi generasi yang gagal faham. Banyak negara yang telah lama menyediakan bea siswa bagi mahasiswa negara asing di antaranya Mesir, Turki, Saudi Arabiah, Inggris, Kanada dan Jepang. Secara ekonomi tidak sedikit negara yang berada dibawah perekonomian Indonesia, namun mereka tetap menyiapkan bea siswa bagi mahasiswa dari berbagai negara yang memiliki syarat dan kemampuan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Penyiapan beasiswa bagi mahasiswa negara lain untuk mengkaji Islam di Indonesia sebagai negara demokrasi yang berpenduduk muslim terbesar di dunia, tentu menjadi daya tarik tersendiri karena negara Indonesia bukan negara agama atau negara yang mengakui agama tertentu, tetapi secara konstitusional mengakui enam agama besar yang dianut banyak masyarakat dunia. Indikasi tersebut mengisyaratkan bahwa Indonesia merupakan negara yang mengedepankan toleransi, moderasi dan keutuhan berbangsa dan bernegara dibawah falsafah Pancasila.

Nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, hikmah dan keadilan menjadi karakteristik substansi dan muatan pembelajaran studi Islam di Indonesia yang dapat dipelajari, dipahami dan disebarluaskan kepada setiap mahasiswa asing yang mendalami studi KeIslaman di Indonesia. Karakteristik tradisi akademik dunia kampus itulah yang dapat disebarluaskan oleh mereka yang telah menimba ilmu di Indonesia, dan lambat laun dunia internasional dapat menjadikan Indonesia sebagai kiblat pendalaman studi Islam.

Akhirnya, wacana Dirjen pendidikan Islam kementerian agama menyediakan bea siswa bagi mahasiswa dari negara lain (WNA) patut segera diwujudkan dengan tetap mengutamakan nilai-nilai dan esensi studi keIslaman yang mengedepankan nilai toleransi, moderasi dan pluralistik, bukan mengedepankan sensasi dan simbol-simbol budaya antara satu komunitas dengan komunitas lainnya. Demikian pula sebaliknya dengan WNI yang melanjutkan studi pada berbagai negara pendonor.(*)

Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help