TribunTimur/

74 Santri Sulsel Ikut Musabaqah Qiraatul Qutub Nasional ke IV di Jepara

Menteri Agama RI Lukman Hakim Syaifuddin membuka Musabaqoh Qiraatul Qutub Tingkat Nasional ke IV ini

74 Santri Sulsel Ikut Musabaqah Qiraatul Qutub Nasional ke IV di Jepara
HANDOVER
Perwakilan Sulsel Musabaqoh Qiraatul Kutub (MQK) Tingkat Nasional ke IV ikut dalam pembukaan di Pondok Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang, Kab. Jepara, Jawa Tengah. 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Hasim Arfah

TRIBUN-TIMUR.COM, JEPARA- Perwakilan Sulsel Musabaqoh Qiraatul Kutub (MQK) Tingkat Nasional ke IV ikut dalam pembukaan di Pondok Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang, Kab. Jepara, Jawa Tengah.

Menteri Agama RI Lukman Hakim Syaifuddin membuka Musabaqoh Qiraatul Qutub Tingkat Nasional ke IV.

Selain itu, hadir juga Wakil Ketua Komisi VIII Nur Ahmad, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo beserta jajarannya, Pengasuh Pondok Pesantren Balekambang KH Muhammad Makmun Abdullah, Kakanwil Kemenag Provinsi se Indonesia, para Bupati dan Walikota di Jawa Tengah, Dewan Hakim, santri peserta MQK dari 33 propinsi, serta ribuan santri dan masyarakat sekitar Balekambang Kabupaten Jepara.

Menag Lukman Hakim Saefuddin menyampaikan salam hangat dari Presiden Joko Widodo.

Menag juga menyampaikan permohonan maaf Presiden karena tidak bisa hadir silaturrahim dan menyapa para santri.

Lukman menegaskan bahwa pesantren merupakan miniatur Indonesia.

“Pondok pesantren merupakan miniatur indonesia. Pesantren telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah perjalanan bangsa kita. Bisa jadi, tanpa pesantren belum tentu negara Kesatuan Republik Indonesia ini ada. Oleh karenanya, kita telah sama-sama menetapkan adanya Hari Santri sebagai upaya untuk memperkuat pondok pesantren," via rilis Kemenag Sulsel ke Tribun, Sabtu (2/11/2017).

Ia mengatakan semua perwakilan merasakan khasanah keilmuan pondok pesantren itu luar biasa, literatur kitab kuning jadi musabaqah ini.

"Para santri akan diuji dalam kemampuan membaca tulisan teks arab yang tanpa harakat (yang biasa disebut tulisan gundul). Para santri berlomba memahami dan mengartikulasikan teks itu dihadapan dewan hakim dan semua yamg menyaksiakan," katanya.

Halaman
12
Penulis: Muh. Hasim Arfah
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help