Peringatan Hari AIDS Sedunia, Ini Harapan Kader Kohati Makassar

Hari AIDS sedunia diperingati untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.

Peringatan Hari AIDS Sedunia, Ini Harapan Kader Kohati Makassar
HANDOVER
Kader Korps HMI Wati (Kohati) Makassar, Ade Irma suriyanti 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Fahrizal Syam

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Perimgatan Hari Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) sedunia jatuh pada tanggal 1 Desember hari ini.

Hari AIDS sedunia diperingati untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.

Kader Korps HMI Wati (Kohati) Makassar, Ade Irma suriyanti mengatakan, peringatan hari AIDS merupakan sebuah perayaan yang tak biasa.

"Karena hari AIDS bukan hal yang harus dirayakan dengan tiupan balon tetapi peringatan ini merupakan alarm bagi kita semua bahwa penyakit mematikan ini semakin dekat," kata dia.

Ia mengatakan, salah satu poin dalam Sustainable Development Goals (SDG’s) bahwa wacana global epidemi AIDS akan berakhir pada tahun 2030, sehingga AIDS tidak lagi menjadi ancaman kesehatan masyarakat karena penyebaran HIV dapat dikendalikan.

Ia menjelaskan, di seluruh dunia pada tahun 2013 ada 35 juta orang hidup dengan HIV yang meliputi 16 juta perempuan dan 3,2 juta anak berusia di bawah 15 Tahun.

Jumlah infeksi baru HIV pada tahun 2013 sebesar 2,1 juta terdiri daru 1,9 juta dewasa da 240.000 anak berusia 15 tahun dan kematian akibat AIDS 1,5 juta yang terdiri dari 1,3 juta dewasa dan 190.000 anak berusia di bawah 15 Tahun.

Mahasiswa Pascarjana Unhas Jurusan Kesehatan Masyarakat ini menuturkan, pendidikan menjadi salah satu langkah terbaik untuk mencegah HIV/AIDS, meski hal tersebut masih mendapat berbagai tantangan di masyarakat.

"Salah satu upaya mengatasi HIV/AIDS adalah dengan mengajarkan HIV/AIDS di sekolah-sekolah. Dalam hal edukasi di Indonesia menjadi menjadi kendala bagi edukator untuk memberikan edukasi karena penyakit yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat karena hal tersebut dianggap menyimpang,"

"Kemudian upaya-upaya dalam menginformasikan kepada masyarakat tentang HIV dan AIDS bisanya menggunakan media teknologi dan informasi dapat berupa selebaran, televisi dan radio," kata Irma.

Menurutnya, dukungan sektor pendidikan dalam meningkatkan pengetahuan terkait HIV/AIDS sangat penting karena pendidikan adalah salah satu pola transformasi ilmu pengetahuan.

"Misalnya dengan melakukan sosialisai bahaya penggunaan narkoba, seks bebas yang akan menjadi media penularan virus HIV dan akan berkembang menjadi penyakit AIDS," ucapnya.

Menurutnya, keberhasilan penanggulangan AIDS ini juga merupakan tanggung jawab bagi seluruh manusia yang memilik hak dasar untuk hidup bebas, produktif dan bebas dari penyakit.

Ia juga berharap masyarakat tidak mendiskreditkan pengidap HIV/AIDS, karena yang harus dihindari adalah penyakitnya, bukan penderitanya. (*)

Penulis: Fahrizal Syam
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help