TribunTimur/

Dikelabui Lewat SMS, Siswi SMA di Takalar Ini Jadi Korban Pelecehan

SM mengaku menjadi korban pelecehan seksual oleh Ibrahim (22) dan Ramli Sese (27) yang merupakan warga Dusun Dande-Dandere.

Dikelabui Lewat SMS, Siswi SMA di Takalar Ini Jadi Korban Pelecehan
reni kamaruddin/tribuntakalar.com
Korban SM bersama orangtuanya saat melaporkan kejadian yang menimpanya di Mapolres Takalar, Jl HM Manjarungi, Kecamatan Pattalassang. Jumat (6/10/2017). 

Laporan Wartawan TribunTakalar.com, Reni Kamaruddin

TRIBUNTAKALAR.COM, MAPPAKASUNGGU - Kasus pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur terjadi di Pulau Tanakeke, Dusun Dande-Dandere, Desa Maccini Baji, Kecamatan Mappakasunggu, Kabupaten Takalar, Sulsel, Kamis (29/9/2017) yang lalu. 

Korban pelecehan seksual merupakan siswi kelas I di salah satu sekolah menengah atas (SMA) di Mappakasunggu berinisial SM. Bersama orangtuanya, ia melaporkan kejadian yang menimpanya di Mapolres Takalar, Jl HM Manjarungi, Kecamatan Pattalassang, Jumat (6/10/2017). 

Di Mapolres, SM mengaku menjadi korban pelecehan seksual oleh dua orang laki-laki bernama Ibrahim (22) dan Ramli Sese (27) yang merupakan warga Dusun Dande-Dandere, Desa Maccini Baji, Kecamatan Mappakasunggu. 

Kejadiannya sekitar pukul 18.00 Wita. Pelaku mengelabui korban dengan mengirimkan pesan singkat atau SMS yang berisi kata ‘Saya Tunggu di TK Yayasan Annisa’ dan mengatasnamakan rekan korban bernama Arman. 

SM yang menerima pesan singkat tersebut kemudian mendatangi tempat yang dimaksud. Namun naas ketika tiba ditempat tersebut bukan rekannya yang ia temui, tetapi kedua pelaku. 

Kedua pelaku seketika langsung menyeret korban ke tembok bagian belakang sekolah dan memeluk korban sambil meraba area sensitif korban. 

"Pada saat itu saya tidak berdaya dan hanya bisa berteriak minta tolong kepada warga sekitar, namun tidak ada warga yang mendengar," tuturnya. 

Pelaku secara bergantian meraba dan meremas area sensitif korban. Karena tidak kuat diperlakukan tidak senonoh korban berusaha memberontak dan berhasil melarikan diri. 

Usai kejadian yang menimpa dirinya, korban mengaku ketakutan sehingga tidak melaporkan kejadian tersebut kepada kedua orangtuanya. 

"Pada saat itu, saya tidak melapor karena saya diancam oleh kedua pelaku akan dibunuh kalau saya melapor ke orangtua atau polisi. Tapi sekarang saya tidak bisa menahan malu dan akhirnya saya sampaikan ke guru dan orangtua,” jelasnya.

Merasa keberatan, korban bersama orang tuany kini melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian.(*)

Penulis: Reni Kamaruddin
Editor: Hasriyani Latif
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help