Petani Beralih ke Bawang Merah, Produksi Salak di Enrekang Menurun
Penurunan produksi buah salak di Kabupaten Enrekang terjadi sejak tahun 2005.
Penulis: Muh. Asiz Albar | Editor: Mahyuddin
Laporan Wartawan TribunEnrekang.com Muh Azis Albar
TRIBUNENREKANG.COM, ENREKANG - Kabupaten Enrekang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil buah salak dengan rasa yang manis di Sulawesi Selatan.
Namun dalam beberapa tahun terakhir produksi salak Enrekang terus mengalami penurunan.
Saat ini, produksi buah salak Enrekang hanya berkisar 40-60 ton per tahun.
Padahal, sebelumnya produksi salak mencapai 100 ton per tahun.
Menurut Kepala Dinas Pertanian Enrekang Arsil Bagenda, penurunan produksi salak di Enrekang terjadi sejak tahun 2005.
Baca: Harga Anjlok, Investor Bawang Merah di Enrekang Ini Rugi Rp 30 Juta
Petani beralih ke komoditi holtikultura seperti bawang merah.
"Mulai tahun 2005 petani kita banyak yang beralih ke bawang merah dan sayuran, sehingga produksi salak menurun," kata Arsil kepada TribunEnrekang.com, Minggu (1/10/2017).
Ia menjelaskan, bergesernya petani ke tanaman holtikultura lantaran masa panennya lebih cepat ketimbang salak.
Sehingga tanaman seperti salak, kakao dan sutera mulai tergerus dan bahkan mulai jarang ditemukan.
Baca: Benarkah Makan Salak Bikin Susah BAB?
"Dulu kita dikenal sebagai daerah penghasil salak, kakao dan sutera tapi sekarang sudah mulai berkurang bahkan sutera sudah tak ada lagi," ujarnya.
Ia berharap, petani bisa kembali membudidayakan tanaman salak agar produksinya bisa kembali meningkat.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/pertanian-enrekang_20171001_133745.jpg)